Kamis, 29 Maret 2018

Spanduk Anis Matta

Spanduk Anis Matta bertebaran dimana-mana, bahkah baliho dan papan reklame. Kader yg berfikir positif langsung bangga, karena gambar capresnya terpampang di area publik, artinya ini kerja-kerja serius. Tidak penting siapa yang pasang yang penting kerja sudah dimulai.

Tapi kader yg neting (negatif thinking) langsung ambil kalkulator, kemudian menghitung berapa biaya produksi, biaya pemasangan plus menghitung berapa biaya sewa reklame per hari. Setelah itu nyinyir dan satire menanyakan dana darimana untuk semua itu...tidak ada kebanggaan sama sekali, tidak ada syukur sama sekali bahwa ada kader sendiri yang serius mau memperbaiki Indonesia.

Tidak sampai disitu, kader neting juga nyinyir dan satire mempertanyakan Arah Baru Indonesia, apa isinya? apa narasinya? Judul doank tanpa isi? Ya begitulah nyinyiran dan satire di produksi tiap hari oleh entah siapa...

Padahal dari 9 kader PKS yang diamanahkan menjadi bacapres baru terlihat Anis Matta yang serius menjalankan amanah itu. Bacapres diamanahkan untuk sosialisasi ke publik dan mendongkrak elektabiltas PKS. Bukan hanya itu, bacapres juga diminta memenangkan calon kepala daerah yang diusung, apalagi kader sendiri. Dan itu sudah dilakukan Anis Matta.

Harusnya yang dievaluasi adalah bacapres yang sudah diberi amanah tetapi tidak optimal menjalankan amanah tersebut. Sekedar teriak-teriak ganti presiden 2019 tetapi kemudian issue diambil capres partai lain, menari di genderang orang lain.

Para kader neting mungkin sudah lupa, bahwa kader-kader PKS adalah kader-kader penuh pengorbanan, bahkan pengorbanan (tadhiyah) adalah rukun ke-5 dari janji setia terhadap partai dakwah. Maklum Kader neting biasanya langsung loncat rukun ke 10 yaitu tsiqoh jadi kurang mengerti makna tadhiyah.

Ternyata banyak kader dengan amal rahasianya menyumbang sebagian rizkinya untuk biaya pembuatan spanduk, baliho bahkan kaos. Ada juga muhsinin yang menginfaq-kan titik reklamenya. Para relawan sumringah ketika memasang spanduk dan baliho walau cuma berbekal segelas kopi dan sebungkus gorengan.

Situasi ini mengingatkan situasi 1999 dan 2004, dimana kader berjibaku tadhiyah dgn harta, waktu dan tenaga mereka untuk memenangkan PKS.

Spanduk, baliho dan papan reklame itu mencerminkan semangat dan harapan untuk punya Presiden RI yang soleh dan berilmu.

Spanduk, baliho dan papan reklame itu bukti bahwa masih ada militansi untuk bisa bekerja optimal tanpa pamrih apapun

Spanduk, baliho dan papan reklame itu adalah 'izzah dan marwah kader, karena kader sendiri layak memimpin negeri ini. Layak menjadi Pemimpin ummat Indonesia.

Spanduk, baliho dan papan reklame itu adalah simbol perlawanan terhadap rezim, bukan sekedar koar-koar ganti presiden 2019, tetapi juga tegas menentukan siapa yang layak mengganti presiden RI di 2019, agar tidak diambil orang lain.

Spanduk, baliho dan papan reklame itu adalah harga diri partai, tiket PKS akan dipakai sendiri not for sale....

Kaum nyinyirun dan satirun terhadap Anis Matta baiknya segera kembali ke jalan yang benar, gelombang Arah Baru Indonesia baru saja dimulai dan akan membesar sudah tidak bisa dibendung. Relawan dari berbagai macam golongan dan profesi sudah terbentuk tanpa taklimat dan tanpa doktrin taat dan tsiqoh. Karena ketaatan dan tsiqoh lahir dengan sendirinya, tanpa harus di paksa dan di doktrin.

Mereka bekerja tanpa pamrih, berjibaku untuk terus sosialisasi dan konsolidasi, dan itu dari Sabang sampai Merauke...Gelombang Arah Baru Indonesia tidak bisa lagi dibendung...Allahu Akbar.....

Deki Kunanjar:
Jakarta , 24 Maret 2018

Rabu, 28 Maret 2018

Misteri Indonesia 2030 Anis Matta


Jakarta - Diskursus tentang kemungkinan Indonesia bubar pada 2030 yang dipicu oleh buku Ghost Fleet (2015) dan dikomentari oleh politisi dan para tokoh Indonesia ini menarik. Saya ingin menggunakannya sebagai momentum mengukur ketegangan geopolitik dunia dan prospek kekuatan Indonesia. Apa yang akan terjadi masih misteri. Sejumlah pemikir strategis memperkirakan 2030 adalah titik persilangan antara menurunnya dominasi Amerika Serikat dengan menguatnya China di bidang ekonomi, teknologi, dan militer. Jika tidak ada interupsi, maka China akan menjadi negara adidaya nomor satu dunia.

Di atas kertas sebenarnya AS masih jauh lebih unggul dari China, dalam hal ekonomi, teknologi, apalagi militer. Namun, yang dilakukan China sekarang adalah memperkecil jarak, seperti pelari di nomor dua yang sedang bekerja keras menyusul pelari pertama. Pada 2030 itulah diperkirakan mereka akan berlari seiring. Dalam perspektif strategi perang, ini berarti China akan siap dan mampu menghadapi AS jika terjadi eskalasi konflik yang serius di Asia dan dunia.

Masalah di Amerika

Amerika Serikat memang masih unggul dalam banyak ukuran namun ia sekarang tengah bergelut dengan krisis legitimasi para pemimpinnya serta konflik elite yang berlarut-larut sejak awal proses pemilihan umum hingga terpilihnya Donald Trump sebagai presiden. Krisis ini menyebabkan AS tidak mampu melakukan mobilisasi sumber daya besar-besaran karena tidak solidnya kekuatan-kekuatan domestik. Jika Amerika memutuskan pergi berperang, hambatan pertama yang akan dihadapi adalah penolakan besar-besaran dari rakyatnya sendiri.

Amerika juga sedang mencari bentuk kebijakan luar negerinya. Slogan Trump "Make Amerika Great Again" dan "America First" membuatnya berorientasi ke dalam (inward looking) dengan cakrawala yang sempit. Faktor ini yang menyebabkan barisan Amerika tampak belum rapi di tengah konflik global yang terus naik tensinya.

Menurunnya kemampuan Amerika melakukan mobilisasi besar-besaran juga disebabkan menurunnya kekuatan ekonomi. Jika dulu "Barat" menguasai sekitar 70-80% ekonomi global, kini tinggal sekitar 40% karena direbut oleh Asia, khususnya China dan India.

Amerika juga masih limbung karena belum pulih dari terpaan krisis ekonomi 2008. Krisis yang dimulai dari kredit macet sektor properti ini berkembang hingga memukul jantung kapitalisme, pasar bebas, dan secara khusus meruntuhkan kepercayaan kepada sistem keuangan global. Satu per satu raksasa keuangan Amerika tumbang, mulai dari Bear Sterns, Lehman Brothers, hingga AIG. Kemudian muncul krisis utang di Eropa yang meluluhlantakkan Yunani dan merembet ke Irlandia, Portugal, Spanyol, dan Siprus. Bersamaan itu, mulai timbul krisis gelombang pengungsi ke Eropa.

Amerika kehilangan legitimasi di Eropa. Ini tampak dari sikap beberapa negara, salah satunya Kanselir Jerman Angela Merkel yang dengan tegas menyatakan sudah waktunya Barat tidak lagi tergantung pada kepemimpinan Paman Sam. Di dalam negeri, Amerika tidak bisa melakukan konsolidasi elite untuk melakukan agenda-agenda besar.

Kembali ke Ghost Fleet, buku ini bisa dibaca sebagai warning dan provokasi agar Amerika segera melakukan interupsi ketika masih dalam posisi unggul. Ada pihak yang tidak menginginkan Amerika nantinya harus masuk ke suatu konflik-bahkan perang --yang tak mungkin dimenangkannya.

Masalah di China

Dengan segala glorifikasi sebagai keajaiban ekonomi dari Timur, China bukan tanpa masalah. Setelah mencapai puncak pertumbuhan ekonomi 14,2 persen pada 2007, mulai 2015 hingga sekarang angka pertumbuhan China selalu di bawah 7 persen dengan tren menurun. Negeri Panda ini belum mendapat momentum lagi untuk menggenjot roda perekonomiannya. Padahal, dalam bahasa yang sederhana, tidak mudah memberi makan sekitar 1,4 miliar manusia. Konsekuensi dari perlambatan ekonomi adalah menurunnya penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan sehingga ancaman revolusi sosial terus membayangi negeri itu.

Masalah kesenjangan ekonomi pun semakin banyak ditulis oleh media internasional. Pada akhir 2016, Forbes mengutip peneliti

an dari Nanjing Agricultural University, menggambarkan China yang terbagi dua: tujuh provinsi pesisir, yaitu Shanghai, Tianjin, Jiangsu, Zhejiang, Guangdong, Shandong, dan Fujian serta bagian Inner Mongolia adalah daerah berpendapatan tinggi; sementara daerah lain di pedalaman adalah daerah berpendapatan rendah. Pendapatan per kapita di daerah pedalaman hanya 60 persen dari mereka yang tinggal di daerah kaya. Tak heran ada yang menyebut, kota-kota pesisir yang berkilau seperti Shanghai, Guangzhou, atau Shenzhen tak ubahnya ruang tamu yang indah untuk menyembunyikan ruang dalam yang sederhana.

Namun, Presiden Xi Jinping lebih mampu melakukan konsolidasi ke dalam, terutama setelah konstitusi negeri itu menghapus masa jabatan presiden. Ia tidak memiliki masalah legitimasi kepemimpinan dan konsolidasi elite seperti yang dihadapi Trump. Xi juga lebih mampu mengendalikan masyarakat sipil untuk konsolidasi agenda-agenda besar.

Konsolidasi kekuatan militer tampak dari belanja persenjataan yang terus naik. Data resmi menunjukkan pada 2016 belanja militer China USD 146 miliar (Rp 1.900 triliun), naik 11 persen dari USD 131 miliar pada 2014. Angka ini menempatkan China sebagai nomor dua persis di bawah AS. Dari sisi industri pertahanan pun China telah menjadi eksportir senjata terbesar nomor tiga dunia, memasok persenjataan ke 35 negara dengan pembelian signifikan dari Pakistan, Bangladesh, dan Myanmar.

Dalam perspektif kritis, agenda Xi memperkuat militer juga bertujuan mengantisipasi kemungkinan terjadinya pembelahan sosial yang tidak terkendali. Konsolidasi elite juga dilakukan dengan memberangus lawan-lawan politiknya melalui isu pemberantasan korupsi.

China dengan cerdas memanfaatkan hamparan kontinen Asia untuk memperkuat posisi geopolitiknya melalui pembangunan jalan dan rel kereta serta jalur pipa gas. Belajar dari Barat, China juga memperkuat dominasinya dengan membentuk lembaga keuangan raksasa Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dengan 67 negara anggota, termasuk sejumlah negara Eropa seperti Belanda, Swiss, Jerman, dan Israel.

China mengadopsi kapitalisme untuk menggenjot pertumbuhan ekonominya, tetapi masih menetapkan komunisme dalam sistem ideologi dan politiknya, seraya menjaga jarak terhadap kapitalisme global. China bahkan mulai masuk ke isu sensitif seperti Palestina-Israel dan konflik Suriah.

* * *

Mengikuti alur di atas, jika tidak ada interupsi, China akan menjadi negara adidaya nomor satu di dunia. Interupsi yang mungkin terjadi adalah krisis ekonomi dalam skala besar atau perang. Itulah misteri yang baru akan terjawab pada waktunya. Lalu, di mana Indonesia di tengah konflik yang memanas ini? Katakanlah, jika Laut China Selatan mengalami eskalasi, apa yang bisa kita lakukan?

Lebih penting lagi, bisakah Indonesia menjadi faktor interupsi agar perimbangan kekuatan dunia tetap terjaga sehingga usia perdamaian bisa lebih panjang? Itu yang harus dijawab oleh para pemimpin. Jika bisa mengelola semua potensi yang dimiliki, seharusnya Indonesia duduk di meja utama perundingan dunia.

Anis Matta
Pengamat politik internasional

https://news.detik.com/kolom/3938767/misteri-indonesia-2030

MEMBACA ANIS MATTA & BIOGRAFI PKS


PKS adalah harta berharga Ummat Islam dan Bangsa Indonesia, lahir bukan karena uang atau ego orang-orang besar tanpa ide dan pikiran. PKS lahir sebagai bagian dari ikhtiar mengisi reformasi 1998 yang hampir 20 tahun berjalan. PKS lahir dengan ide dan idealisme.

PKS lahir memikul ide untuk menegakkan keadilan dan menebar kesejahteraan. Adil dan Sejahtera adalah termasuk 2 isu inti dalam negara. Dan Islam sebagai pondasi PKS meletakkan 2 isu itu sebagai dasar untuk membangun kehidupan bersama apapun bentuknya.

Saat reformasi mulai bergema di ujung 1997 akibat krisis ekonomi yang melanda Asia Tenggara, para aktifis dakwah berkumpul merumuskan antisipasi dan bentuk baru pergerakan jika ada perubahan mendasar. Dan perubahan berlangsung lebih cepat dari yg diperkirakan.

Keruntuhan rezim orde baru adalah peluang bagi semua orang, termasuk bagi itikad baik para aktifis pergerakan. Maka, sebuah partai dilahirkan melalui sebuah perdebatan panjang. Salah seorang inti pemikiran itu adalah @anismatta, seorang pemikir dan aktifis pergerakan.

Ini nanti yang menjelaskan kenapa @anismatta begitu nampak mengakar? Karena ia meletakkan narasi dan dasar berpikir dalam pergerakan partai lebih banyak dari orang lain. Ini soal biografi pikiran yang barus kita tuliskan.

Nanti saya akan mulai tulis percakapan saya dengan @anismatta kemarin saat saya menghampirinya tak jauh dari Geneva ke Budapest tempat beliau sedang ada urusan keluarga. Sebuah percakapan padat tentang masa depan Islam dan Indonesia sebagai harapan baru dunia.

Kenapa setelah #20TahunReformasi bangsa nampak diam dan mendekam? Kenapa pembaharuan berhenti? Kenapa negara jatuh ke tangan amatiran? Kenapa PKS stagnan dan berujung perkelahian? Apa harapan kita ke depan? Semua hadir dalam percakapan bersama @anismatta .

Dari Geneva, Swiss saya sempat mampir ke budapest sehari berjumpa @anismatta, sahabat guru dalam banyak hal. Beliau sedang ada acara keluarga dan pas saat saya bisa bertemu dan meluangkan waktu seharian.  Dari pagi sampai malam dan berpindah tempat.

Belakangan beliau memang cukup sering ke luar negeri untuk banyak urusan; seminar, berbisnis dan juga urusan keluarga di negeri seberang. Saya mampir karena kalau di Jakarta pun kadang sulit bertemu dan mengatur waktu. Dialog yang berkesan.

Maka melanjutkan waktu yang ada, saya mencoba mendengar apa evaluasi beliau atas peristiwa kita  belakangan. Bukan semuanya, sebab sebetulnya kami juga sering banyak bicara dan membaca sejarah kita.  Sejak masih menjadi mahasiswa .

Saya kuliah di FEUI (Fakultas Ekonomi UI) dan beliau berkuliah di LIPIA yang juga berada di jalan Salemba, Jakarta.  Selain karena kampus yang berdekatan kami juga tinggal berdekatan. Saya menjadi pengurus masjid ARH yang  bersejarah itu.

Kampus pak @anismatta Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) adalah cabang Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud Riyadh didirikan pada tahun 1400 H/1980 M. Saat ini LIPIA Jakarta berlokasi di Jalan Buncit Raya No. 5A, Ragunan, Jakarta Selatan.

LIPIA dalam sejarah pergerakan #BiografiPKS adalah kampus yang cukup penting. Ia tidak saja menyuplai para aktifis tetapi juga menjadi pemberi warna dari kajian kampus yang terasa kering. Mereka membawa gagasan yang lebih menyala.

Anak-anak LIPIA ini diundang sebagai mahasiswa dan mendapatkan beasiswa yang cukup dari universitasnya. Itulah sebabnya saya menemukan lulusan terbaik dari pesantren di seluruh Indonesia akhirnya berkuliah di LIPIA. Mereka tumbuh cemerlang.

Sebenarnya banyak tokoh nasional dengan berbagai spektrum pemikiran pernah mengenyam pendidikan di LIPIA. Orang seperti Habib Rizieq dan Ulil Absar dan banyak lagi pernah mampir sekolah. Ketua Majelis Syuro PKS Ust. Salim Aljufrie adalah dosen LIPIA.

Maka, di antara yang menonjol dan menyelesaikan studinya di LIPIA serta lulus dengan predikat terbaik adalah @anismatta. Sejak mahasiswa beliau memang nampak istimewa, beliau menjadi narasumber yang menarik jika sedang bicara berbagai tema.

Anis Matta bicara banyak tema; mulai tema fiqih tentang semua hal sampai tema kepribadian; cinta, membangun relasi yang baik, pesona, sampai tema politik, negara dan pergerakan global. Beliau menulis banyak buku dan serial termasuk soal demokrasi dan kepahlawanan.

Itulah yang membuat saya dekat. Saya bergaul dan tumbuh bersama secara intelektual. Kami mengalami masa-masa ketika pikiran mencoba menemukan jawaban. Lulus dari FEUI dan LIPIA kami mendaftar di S2 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MPKP) UI tahun 1997.

MPKP adalah program baru yang di buka Pascasarjana UI dan direktur pertama program ini adalah Ibu Sri Mulyani, yang sekarang menjadi menteri keuangan. Kami tinggal di Utan Kayu dan kuliah di Depok. Setiap hari di atas kereta api kami berdialog pagi dan sore.

Kuliah S2 nampaknya tidak bisa lama, sebuah denyut sejarah berdetak semakin keras. Akhirnya ujian tengah semester MPKP sekitar bulan Februari 1998 kami bolos, nampaknya ada persiapan lain yang sedang dilakukan, Reformasi!

Anis Matta adalah konseptor, ia menulis banyak hal dalam transisi kita. Sewaktu kami menyelenggarakan Forum Silaturahim LDK (Lembaga Dakwah Kampus) di Universitas Muhammadiyah Malang, beliau hadir menjadi narasumber. Prabowo juga dijadwalkan hadir meski kemudian batal.

Kita ketahui kemudian bahwa FSLDK Malang tanggal 29 Maret 1998 melahirkan organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang akhirnya banyak tokoh utamanya menjadi pendiri PK atau sekarang menjadi PKS.

Demikian sejarah sebuah pertemuan. Tentu banyak tokoh yang saya temui tetapi kali ini saya menulis soal seorang pemuda yang memberi kesan kepada pergerakan. Seorang penulis, aktifis, ideolog dan marka perjuangan. Dialah anis matta.

Saya ingat, saya menjadi wakil sekjen beliau di PKS belasan tahun. Dan mendapatkan pengalaman terbaik untuk menjadi yang mengerti tentang sejarah sebuah ide. Anis matta tidak saja pemikir Islam tetapi juga pemikir ilmu dan sejarah sosial dunia yang mendalam.

Bacaannya luas, pengertiannya tentang agama yang berasal dari kitab-kitab klasik membuatnya mudah berkomunikasi dengan kaum tradisionalis pesantren dan klasik tetapi kemampuannya membaca dan bergaul membuat ia aktual membaca peta terkini kita.

Lalu apa saja yang kami percakapkan? Bagaimana Anis Matta membaca peta masa depan? Bagaimana AM melihat situasi sekarang? Sebuah percakapan padat di sudut kota Budapest kemarin. Nanti kita lanjutkan.

Twitter @Fahrihamzah 28/3/2018