Spanduk Anis Matta bertebaran dimana-mana, bahkah baliho dan papan reklame. Kader yg berfikir positif langsung bangga, karena gambar capresnya terpampang di area publik, artinya ini kerja-kerja serius. Tidak penting siapa yang pasang yang penting kerja sudah dimulai.
Tapi kader yg neting (negatif thinking) langsung ambil kalkulator, kemudian menghitung berapa biaya produksi, biaya pemasangan plus menghitung berapa biaya sewa reklame per hari. Setelah itu nyinyir dan satire menanyakan dana darimana untuk semua itu...tidak ada kebanggaan sama sekali, tidak ada syukur sama sekali bahwa ada kader sendiri yang serius mau memperbaiki Indonesia.
Tidak sampai disitu, kader neting juga nyinyir dan satire mempertanyakan Arah Baru Indonesia, apa isinya? apa narasinya? Judul doank tanpa isi? Ya begitulah nyinyiran dan satire di produksi tiap hari oleh entah siapa...
Padahal dari 9 kader PKS yang diamanahkan menjadi bacapres baru terlihat Anis Matta yang serius menjalankan amanah itu. Bacapres diamanahkan untuk sosialisasi ke publik dan mendongkrak elektabiltas PKS. Bukan hanya itu, bacapres juga diminta memenangkan calon kepala daerah yang diusung, apalagi kader sendiri. Dan itu sudah dilakukan Anis Matta.
Harusnya yang dievaluasi adalah bacapres yang sudah diberi amanah tetapi tidak optimal menjalankan amanah tersebut. Sekedar teriak-teriak ganti presiden 2019 tetapi kemudian issue diambil capres partai lain, menari di genderang orang lain.
Para kader neting mungkin sudah lupa, bahwa kader-kader PKS adalah kader-kader penuh pengorbanan, bahkan pengorbanan (tadhiyah) adalah rukun ke-5 dari janji setia terhadap partai dakwah. Maklum Kader neting biasanya langsung loncat rukun ke 10 yaitu tsiqoh jadi kurang mengerti makna tadhiyah.
Ternyata banyak kader dengan amal rahasianya menyumbang sebagian rizkinya untuk biaya pembuatan spanduk, baliho bahkan kaos. Ada juga muhsinin yang menginfaq-kan titik reklamenya. Para relawan sumringah ketika memasang spanduk dan baliho walau cuma berbekal segelas kopi dan sebungkus gorengan.
Situasi ini mengingatkan situasi 1999 dan 2004, dimana kader berjibaku tadhiyah dgn harta, waktu dan tenaga mereka untuk memenangkan PKS.
Spanduk, baliho dan papan reklame itu mencerminkan semangat dan harapan untuk punya Presiden RI yang soleh dan berilmu.
Spanduk, baliho dan papan reklame itu bukti bahwa masih ada militansi untuk bisa bekerja optimal tanpa pamrih apapun
Spanduk, baliho dan papan reklame itu adalah 'izzah dan marwah kader, karena kader sendiri layak memimpin negeri ini. Layak menjadi Pemimpin ummat Indonesia.
Spanduk, baliho dan papan reklame itu adalah simbol perlawanan terhadap rezim, bukan sekedar koar-koar ganti presiden 2019, tetapi juga tegas menentukan siapa yang layak mengganti presiden RI di 2019, agar tidak diambil orang lain.
Spanduk, baliho dan papan reklame itu adalah harga diri partai, tiket PKS akan dipakai sendiri not for sale....
Kaum nyinyirun dan satirun terhadap Anis Matta baiknya segera kembali ke jalan yang benar, gelombang Arah Baru Indonesia baru saja dimulai dan akan membesar sudah tidak bisa dibendung. Relawan dari berbagai macam golongan dan profesi sudah terbentuk tanpa taklimat dan tanpa doktrin taat dan tsiqoh. Karena ketaatan dan tsiqoh lahir dengan sendirinya, tanpa harus di paksa dan di doktrin.
Mereka bekerja tanpa pamrih, berjibaku untuk terus sosialisasi dan konsolidasi, dan itu dari Sabang sampai Merauke...Gelombang Arah Baru Indonesia tidak bisa lagi dibendung...Allahu Akbar.....
Deki Kunanjar:
Jakarta , 24 Maret 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar