Minggu, 23 Juli 2017

NARASI HTI DAN ISOLASI NEGARA PADA RAKYATNYA SENDIRI

Sore ini,
Mungkin sampai malam,
Secara maraton saya ingin membuat refleksi singkat... sebab ada yang bahaya.

Perpu Ormas, sebuah produk hukum dadakan mulai bekerja dan negara mulai melakukan persekusi kepada rakyatnya...

Ini adalah tragedi yang lukanya belum sembuh.. lalu luka itu dirobek kembali... akan ada kepedihan..

Ini tragedi bangsa kita...
Tentang harga manusia dan kebebasan manusia.. sesuatu yang baru saja kita ingat lalu kita lupa kembali...

Maka saya menulis ringan sebuah pengalaman agar kita bersama melawan lupa... melawan nasib buruk di depan mata..

Saya lahir 1971 di hari orde baru memulai legitimasinya melalui pemilu.. lahir di sebuah desa kecil di sumbawa... NTB...

Tahun 1971 masih gelap.. listrik masuk desa baru  tahun 1984... aku tidak mengerti dunia lain..

Dunia kami hanya keluarga, tetangga, sungai, hutan, laut dan keramahan orang desa.. apa adanya...

Aku tidak mengerti politik... tidak mengenal aktornya.. kami hanya mengenal agama.. dan cengkrama antar tetangga...

Itulah yang merekatkan pikiran dan ingatanku dengan seseorang yang kukenal kuat dalam ingatan..

Kami memanggilnya Nde Sudin. Panggilan yang mengandung 2 kata, Nde yg artinya paman (atau bibi) dan Sudin nama beliau.

Anak2 sumbawa memanggil lelaki setengah baya sebagai paman (bibi juga nde). Demikianlah keakraban kami. Jika NdeSudin adalah pria setengah baya.

Nama panjangnya Syamsuddin. Beliau sekeluarga persis tinggal di depan rumah kami di Sumbawa.

Sehari-hari NdeSudin adalah pemilik bengkel sepeda di depan rumah. Lelaki bersahaja Beristerikan NdeSari.

Anak2 mereka mengaji di tempat abahku; Itik, Her, Amin, Ded dan Asia. Aku akrab dengan mereka sebab setiap maghrib kami mengaji bersama.

Sepulang sekolah aku senang menonton NdeSudin bekerja di bengkel sepeda  sampai malam hari bersama Anak2 beliau.

Anak2 NdeSudin dan NdeSari rajin mengaji. Tetapi NdeSudin tak pernah nampak pergi jumatan.

Dalam rentang usia TK sampai SMP saya belum mengerti kenapa beliau jarang ke mesjid atau nampak sholat 5 waktu.

Meski kemudian saya mendapat informasi bahwa beliau adalah musuh Pemerintah, beliau dituduh simpatisan Partai Komunis.

Sumbawa adalah basis Masyumi dan kami berasal dari keluarga Masyumi Totok. Tapi PKI sebagai partai besar pasti punya banyak simpatisan.

Dugaan saya NdeSudin pernah simpati dengan komunis karenanya kemudian menjadi dasar adanya isolasi.

Ketika NdeSudin muda, saya tidak melihat efek isolasi kepada beliau di tengah rezim militer yang represif.

Tapi setelah beliau wafat, saya melihat ada yang getir pada kehidupan mereka. NdeSudin seperti tersingkir dan terusir.

Keluarga NdeSudin rupanya diisolasi melalui mekanisme negara, KTP mereka diberi tanda dan pelayanan publik diskriminatif.

Di desa dan di tempat kami tangan negara tidak terlalu mencengkeram awalnya ia samar.. tapi makin lama efeknya nampak kentara.

Sewaktu kecil saya tidak mengerti apa yang mereka rasakan sebab kami melihat mereka bahagia seperti yang lain.

Tetapi semakin dewasa saya melihat efek dari isolasi itu kepada keluarga mereka nyata.

Bagi keluargaku NdeSudin dan keluarga  seperti saudara. Tapi di luar sana isolasi terus bekerja.

Entahlah, perasaan saya dihantui oleh perasaan bersalah kenapa saya tidak banyak tahu kisah Nde Sudin selanjutnya.

Pernah terdengar beliau pindah ke daerah lain, mereka sekeluarga berpencar dan banyak yang meninggal dunia sudah.

Itik, Ded, Her dan semua adiknya tidak menikah di kampung kami. Ada kemungkinan tetangganya mulai berbisik.

"Jangan pernah punya keturunan dari anggota PKI maka seumur hidup anak cucumu akan sengsara".

Ini nyata. Di UI dan waktu SMA saya pernah punya GURU cemerlang tapi tidak punya karir karena "tidak bersih lingkungan".

Dan sepertinya saya menemukan itu sekarang, ada bekas yang kuat pada diri mereka yang terpinggirkan dan tersisih.

Kisah NdeSudin menghantui saya setelah rezim @jokowi membubarkan HTI. Dan selanjutnya HTI diperlakukan seperti PKI.

Lalu pagi ini wartawan menghubungi saya bahwa Nama2 pengurus dan simpatisan HTI juga mulai diedarkan untuk diawasi.

Dan saya mendengar ada kampus yang mulai mendata dosen dan mahasiswa. Dengan ancaman2:  "Mereka akan kena akibatnya".

Seorang pejabat POLRI aktif mengatakan bahwa PNS akan dipecat karena ikut HTI dll. Polisi kini sedang berburu.

Di luar ada ormas yang terus mengkampanyekan pembubaran HTI maka yang kita temukan adalah operasi yang sama di awal orde baru.

Tapi orde baru relatif bisa dimengerti karena PKI melakukan kekerasan dan kudeta terhadap kekuasan yang sah.

Lalu darah tumpah di  mana-mana karena perang saudara dan jangan lupa bahwa PKI adalah "partai penguasa".

Orde baru membubarkan PKI setelah pengkhianatan itu nyata dan instrumen yg dipakai adalah TAP MPRS sebagai konsensus tertinggi.

Sekarang apa yang nyata dari tindakan HTI? Apa versi pemerintah tentang anti pancasila? Ayo bicara dong...

Bom mana yang diledakkan HTI dan Kelompok Teroris mana yang punya jaringan komando ke HTI? Buka dong!

Rasanya ini terlalu elementer untuk kita perdebatkan. Karena pengalaman kita seharusnya tidak lagi membuat kita masuk lubang yg sama.

Jadi bayangkanlah,
Pemerintah membubarkan sebuah ormas tanpa bangsa dan rakyatnya diberitahu apa sebetulnya yg terjadi.

Padahal kalau 1 orang akan ditangkap atau dijadikan tersangka harus ada 2 alat bukti. Sekarang apa 2 alat bukti buat HTI?

Saya mengenal kawan2 HTI dan mengetahui buku apa saja yang mereka baca serta metode berpikir mereka.

Rasanya yang paling penting dari konsep HTI adalah Khilafah. Sebuah metode kepemimpinan klasik dalam pemikiran politik Islam.

Selama ini saya tidak melihat keberanian HTI untuk meng-exercise lebih lanjut pikirannya makanya berhenti pada narasi.

Itulah sebabnya mereka gak berani membuat partai politik. Partai mereka adalah ormas. Tahulah kita batas kekuatan ormas.

Boleh jadi ada agenda lain HTI apakah itu kita tidak tahu. Tapi kalau mau bikin khilafah caranya gimana? Partai islam aja kesulitan.

Jadi HTI ini hanya bermimpi soal masa lalu yang indah tapi masak mimpi aja jadi anti pancasila dan ilegal? Ayo jelaskan!

Sikap berlebihan pemerintah jelas HTI ini akhirnya bisa dijelaskan dengan teori benturan peradaban dan war on terror.

Ini yang kita sayangkan. Karena pemerintah kita termakan dengan apa yang datang dari barat. Kali ini kita seperti tidak punya kemandirian.

Padahal, saya ingat dulu zaman ibu Megawati menjadi presiden dan bapak Taufik Kiemas masih hidup. Nuansa independen kuat.

Pernah ada permintaan ekstradisi dari negara asing  kepada presiden atas Abu Bakar Baasir tapi ditolak ibu mega.

Bahkan pak Taufik Kiemas datang ke penjara menjenguk orang yang dianggap paling berbahaya tersebut.

Kita bangsa Indonesia harus memiliki mekanisme kultural untuk menghadapi masalah agama dan Kelompok sosial yg ada.

Bangsa kita terlalu besar dan kompleks untuk ikut2 pada pandangan orang tentang diri kita sendiri.

Twitter @Fahrihamzah
14.32-22.44 23/7/2017

Sabtu, 22 Juli 2017

Selintas Tentang Fahri Hamzah di Sidang Semalam: Yang Teguh dan Berbeda

Menjelang shalat Jum'at, sesaat setelah tiba dari Surabaya, saya mengikuti bang Fahri Hamzah yang sedang diwawancarai oleh wartawan di Pressroom DPR RI. Wartawan antusias sekali bertanya kepada bang FH.

Beberapa yang saya tangkap, adalah pertanyaan tentang sikap bang FH semalam. Sejak semalam, tulisan berupa fitnah, hujatan dan kecaman datang kepada bang FH dan disebarkan secara massif dan terkoordinir.

Entah oleh siapa. Tapi intinya, tentang ketidakturutan bang Fahri Hamzah dalam aksi Walk Out, seturut dengan sikap partainya (PKS), yang menolak aturan ambang batas Presiden 20 % yang sudah diketok dan disahkan oleh DPR.

Semalam, kami sempat berdiskusi untuk berencana membuat rilis dan klarifikasi. Tapi urung dirampungkan.

Dalam wawancara tadi, bang FH sampaikan bahwa, ada ratusan pasal dalam UU Pemilu yang sudah disepakati secara aklamasi. Tinggal PT nol persen atau duapuluh persen yang menjadi perdebatan. Voting sudah dilakukan dan keputusannya, PT disepakati 20%.

Soal WO karena kalah voting, menurut saya pribadi, justru tidak menyelesaikan masalah. Solusi yang benar adalah mendorong gugatan atas UU Pemilu yang baru untuk dimajukan ke Mahkamah Konstitusi.

Mungkin saja, pendapat saya dipengaruhi anasir subyektifitas karena hubungan saya dengan bang Fahri Hamzah, tapi jika saya boleh berpendapat, bang FH memang harusnya tetap di dalam ruangan.

Ia harus menyelesaikan sidang, mengatur lalu lintas keputusan, dan menjalankan tugas sebaik-baiknya sebagai pimpinan DPR. Itulah esensi tanggungjawab. Ia harus selesaikan UU Pemilu, apapun hasilnya, demi proses dan kemajuan penyelenggaraan kontestasi elektoral sebagai bagian dari demokrasi yang sedang kita ikhtiari bersama.

Banyak orang menganggapnya pengkhianat. Saya tak menemukan esensi pengkhianatan tersebut. Saya justru menemukan kenegarawanan dalam sikapnya semalam; ia secara jantan mengakui bersikap sama dengan yang Walk Out, tapi ia juga secara jelas akan berada di ruangan, menyelesaikan tugasnya. 

Tadi siang ia nampak tenang dan santai. Energinya tak habis-habis. Bahkan oleh cercaan terburuk sekalipun. Ia teguh dengan sikapnya. Saya bangga dengan bang Fahri Hamzah. Kali ini saya tak diam-diam mengungkapkannya.

#negarawan
#tentangFH

Oleh Bambang Prayitno

SEBELUM VOTING, HAMPIR 600 PASAL TELAH DISEPAKATI

Teman-teman meminta saya menjelaskan singkat apa yang terjadi kemarin malam. Dalam voting  UU Pemilu yg cukup melelahkan.

Itulah demokrasi. Memang berliku dan tidak mengenal jalan pintas. Melelahkan tapi mengasyikkan. Perlu kesabaran.

Patut kita acungkan jempol kepada seluruh anggota pansus yang bekerja siang malam secara luar biasa.

Pak @LukmanEdy_HM telah memimpin kerja pansus UU Pemilu secara sangat spektakuler. Kita mendapat laporan yg luar biasa.

Foto-foto masa-masa pembahasan yg saya ambil dari twitter menggambarkan kemesraan dan kekompakan

Sembilan bulan pembahasan dilakukan terhadap 3055 Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) yg artinya jumlah perbedaan.

DIM mencerminkan perbedaan pendapat di awal pembahasan UU. Baik dengan pemerintah maupun sesama anggota dan fraksi  DPR.

Tapi akhirnya dengan kesabaran dan rapat maraton termasuk sampai sahur di bulan Ramadhan 1438H yg lalu semua DIM selesai dibahas.

Bayangkan bahwa 3055 DIM berhasil disepakti menjadi hampir 600 pasal tanpa perbedaan alias aklamasi.

Sisanya hanya 5 pasal yang dimasukkan dalam 5 paket alternatif pilihan

Inilah akhirnya yang dibawa ke paripurna untuk mendapatkan musyawarah mufakat atau voting kalau tidak bisa.

Sejak jam 11 paripurna diadakan lalu diselingi lobby sejak jam 14.00 sampai berganti hari. Alias jam 00.00.

Suasana hati dalam lobby sangat baik dan akrab. Semua fraksi menyampaikan pandangan terbuka yang tulus.

Kami pun dari meja pimpinan memfasilitasi secara rileks dan suasana penuh keakraban.

Bahkan opsi 5 paket akhirnya bisa disederhanakan menjadi hanya 2 paket saja. Paket CDE berhasil didrop.

Dari 2 paket  A dan B sebetulnya ada 3 komponennya juga telah disepakati bahwa; sistem pemilu terbuka, PT 4% dan kursi dapil 3-10.

Maka sisa masalah tinggal 2 saja: President Threshold antara 0% atau 20% serta metode konversi suara saint lague murni atau kuota hare.

Dalam pembahasan dari 2 masalah itu memang yang paling krusial adalah soal ambang batas syarat calon presiden.

Di sini nuansa kepentingan politik menguat. Pastilah ini soal pemilihan presiden tahun 2019.

Tapi sebelum ke sana marilah kita syukuri dulu apa yang sudah kita sepakati dan telah diketok palu dalam pembahasan tk 1 dan lobby.

Banyak hal yang telah menjadi kekayaan dalam UUPemilu yang akan kita pakai dalam pemilu 2019

Inilah pemilu serempak pertama yang akan mengubah wajah politik Indonesia masa depan.

Pansus UUPemilu Ini sejak awal justru dilimpin oleh partai menengah sehingga banyak sekali reformasi di dalamnya.

Selanjutnya apa saja sekilas kelebihan UUPemilu Ini dan makna persaingan presiden threshold 0 dan 20 persen akan kita bahas besok.

Selamat istirahat sampai Esok.
....bersambung....

Twitter @Fahrihamzah
22.06-23.17  20/7/2017

Minggu, 09 Juli 2017

KITA MAU KEMANA?

Mari kita berdoa...
SEMOGA BANGSA INDONESIA DAPAT PEMIMPIN SEPERTI SUKARNO..

Kalau pemimpin kita punya narasi sebesar Sukarno.. tidak saja Indonesia, tapi dunia dapat menyimaknya...

Tapi kalau pemimpin kita tidak punya kata yang bisa diucap dengan gagah dan bangga... kitapun tenggelam dalam gelap mata..

Ini yang kita rasa...
Setiap pagi kita bangun...
Kita menyimak kode rahasia..
Entah apa artinya...
Kita terbata-bata...

Kalau rakyat adalah pejalan menuju masa depan dan menuju harapan.. kita semua sudah tersesat...

Karena Pertanyaan "kita mau kemana?" Tidak terjawab... istana mengirim kembali kepada kita isyarat... bla..bla..bla..

Korupsi katanya masalah besar...
Trus siapa yang bertanggungjawab mengajak kita melawannya? Siapa yg kita lawan?

Apa sulitnya presiden menyiapkan sebuah pidato berjudul, "MELAWAN KORUPSI DALAM SETAHUN TUNTAS!".

Lalu setiap hari kita bangun pagi, melihat percakapan yang jelas... Presiden mengambil sikap tegas... setiap hari...

Kenapa soal sederhana ini jadi ribet dan melebar kemana-mana lalu melibatkan orang2 yg niatnya bukan menyelesaikan masalah..

Ah...
Malam minggu kita pikir negara...
Kawan itu sedang berdansa...
Orang2 mulai masa bodoh...
Barangkali ....

Selamat istirahat tuan....
Kami tunggu video barumu...
Soal nyonya-nyonya londo...
Yg sedang makan pasta...

Twitter @Fahrihamzah
22.29-56 8/7/2017

Senin, 03 Juli 2017

GOOD THINGS HAPPEN TO GOOD PEOPLE

Setelah hampir bbrp tahun berpisah, kemarin saya berjumpa dgn 2 sahabat kandidat Doktor. Jangan liat dari gaya berpakaiannya, karna mungkin pakaian bapak-ibu lbh branded dan bagus dari mereka. Jgn liat dari gaya makannya, karna hampir ga ada yg berubah dari gaya makan kita saat sekampus dlu, menikmati nasi, sambal dan kuah kankung cukup dgn jari.

Tak ada yg berubah dari mereka, kecuali kecemerlangan. Bahwa waktu berganti, tapi pembungkusnya tetap kesederhanaan.

Sosok pertama, ahli i'tikaf. Yg saat ini dikasih rizki oleh Allah S3 di Rusia. Saya saksi, saat pengumuman beasiswa study abroadnya dicek dari Hp saya, saat kita itikaf di Al Azhar Kebayoran 5 tahun lalu.

Sosok kedua adalah kandidat doktor perikanan dari Makassar. Yg saban hari melakukan penelitian keliling Indonesia hanya dgn motor. Mirip Che Guevara yg keliling Kuba dgn La Poderosa. Hebatnya dlm perjalanan itu, dia nyempetin galang dana puluhan juta buat masjid Bajo di Wakatobi, yg dilewatinnya.

Ada sekitar 75.000 doktor di Indonesia, tapi yg terpaut dengan masjid, dekat dgn masyarakat, dan tak gengsi dgn kesederhanaan, rasanya gak banyak.

Indonesia butuh jutaan manusia besar seperti ini. Saat pendidikan tak mengubah kesejatian hidup. Seperti Buya Hamka, yg punya 2 honoris causa tapi hidup bersahaja. Atau Pak Natsir yg punya banyak prestasi tapi rendah hati dan tak malu memakai jas dgn tambalan. Atau The Grand Oldman Haji Agus Salim, pahlawan, negarawan, menteri luar negeri, gurunya para tokoh sekaligus diplomat ulung no.1 Indonesia, namun tak punya rumah hingga akhir hayatnya.

Mereka orang-orang spesial yg menghajati dunia hanya sebatas pohon rindang yg disinggahi musafir. Sebentar mereka berteduh. Tak banyak beban yg dibawa. Walhasil dunia gak pernah menyesaki mereka, sebagaimana dunia menyesaki kita. Dan terus saja kita kejar-kejar.

Dan benar, good things happen to good people.

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

(Sapardi, 1982)

Anis Matta yang Saya Kenal


By: Nandang Burhanudin
****

(1)
Kaget juga saat diperdengarkan rekaman telpon, menuduh AM adalah Yahudi dan intel Israel.

(2)
Selain fitnah, jelas mengada-ada. Ditinjau dari bibit-bobot-babat, si penuduh tak akan bisa membuktikan apapun.

(3)
Saya intensif mengenal AM berkat dukungan Ust. Deka Kurniawan, sosok tawadhu yang mantan wartawan Hidayatullah.

(4)
2006 sedari Shubuh sudah hadir di depan gerbang rumah AM di bilangan Utan Kayu. Suguhan lezat selalu hadir. Nutrisi jiwa yang susah didapat.

(5)
Sempat beberapa kali diajak naik mobil ke Senayan. "Antum harus mandiri secara ekonomi. Jangan cari hidup dari partai atau jamaah."

(6)
"Partai, jamaah, organisasi tidak akan selamanya menyukai antum. Bangun potensi diri. Lejitkan! Rajinlah berafirmasi!"

(7)
Nasihat yang selalu terngiang. Cara merekonstruksi bacaan, itu yang membuat saya menjadikan AM sebagai rujukan (qudwah).

(8)
Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama, kendati secara level pendidikan misalnya sudah mencapai strata doktoral atau post doktoral.

(9)
Orang-orang seperti AM sangat jarang. Wajar bila kehadirannya ditunggu. Ia datang memberi ilmu. Pergi menyimpan rindu. Pilihan diksi sangat bermutu.

(10)
Jangan disalahkan bila orang seperti saya "berusaha keras" untuk hadir menimba ilmu. Tak perlu dituduh kultus individu atau dikaitkan dengan anu (wala dan bara).

(11)
Anggap saja seperti hobi alias maniak. Toch banyak juga artis kesohor yang tetap jujur mengakui kehebatan Bang Haji Rhoma, Iwan Fals, Doel Sumbang, Ebiet G.Ade.

(12)
Ada juga yang gila bola, maniak moto GP, hobi mancing, penggila mobil tua. Semua tak dilarang. Lalu mengapa berguru kepada AM dilarang?

(13)
AM bahaya? Jawab dengan jujur. Jangan ada dusta di antara kita? Apakah AM mengajarkan makar? Ooh tidaak! Membakar lemak di otak sich iya.

(14)
Lemak yang membikin diri arogan dan berselancar dalam kesewenangan, itu yang harus dituduh makar. AM menyerang? Tidak juga.

(15)
"Saya punya amunisi berdaya ledak tinggi, high explosive. Tapi tidak saya tembakkan. Sebab saya cinta antum dan jamaah ini." Ujarnya terbata-bata.

(16)
Tentu tak semua apa yang AM katakan saya amini. Terbukti saya pernah mengkritisi orasi AM soal turbulensi pesawat jamaah ini dalam tulisan cukup panjang.

(17)
AM pernah jujur mengakui keterbatasannya. Maka ia tidak akan pernah membelot atau menjadi lokomotif yang membawa gerbong ke luar rel.

(18)
AM hanya ingin mengajak semuanya, menemukan cinta keabadian dan keabadian cinta Ilahi. Tentu dengan caranya yang mungkin bagi sebagian masih dianggap tabu atau berada di ruang hampa.

(19)
Bagi saya, AM sudah menemukan cita rasa dan cinta asa. Maka semua sudah dianggap drama, masrohiyyah. Mungkin bagi yang lain, dianggap wah. Ada juga yang menganggap wabah.

(20)
Itulah cinta. Ia susah untuk direkayasa. Cinta hilangkan rasa takut. Memperluas imajinasi. Sebab cerita cinta tidak akan berakhir.  Harapan lebih luas. Mereka yang minus cinta, akan hangus dan salah urus.

Bhineka, 08:07

Sabtu, 01 Juli 2017

BERSABARLAH, SEJARAH SEDANG MENEMPA KITA


Bersabarlah umat Islam,
Sejarah sedang menagih kebesaran jiwa... usai Ramadhan... usai sebuah jihad akbar...

Jangan menjadi salah tingkah,
Jangan emosi dan jangan gampang marah.... genggamlah kesabaran...

Tahanlah rasa...
Lapar, haus, dahaga dan segala syahwat.. bertahanlah dalam segala goda untuk tunduk pada mau dunia...

Karena latihan kita untuk ujian besar...
Mendirikan bangsa melahirkan peradaban mulia...
Bertahanlah pada cita2...

Jangan mudah luka..
Jangan suka tergores kecewa..
Kita terus melangkah..
Jangan berhenti oleh caci maki..

Wajah kita sedang tidak indah..
Aneka fitnah dan sak wasangka...
Serial gosip dan berita hina dari warung kopi tetangga...

Biarlah...
Tetaplah pada diri...
Tetaplah dewasa...
Jangan mudah patah dan menyerah...
Luka yg tak mematikan akan menguatkan..

Berilah maaf..
Berilah makan..
Berilah minum..
Lindungilah yang ketakutan..
Berilah rasa aman...
Bela yang lemah...

Jangan ada benci...
Jangan kebencian membuat kita tidak bisa berbuat adil...
Keadilan adalah tiang dunia sampai hari kiamat tiba...

Kalau kita luka..
Orang lain juga luka...
Tapi kita punya harapan..
Yang orang lain tidak harapkan..

Semoga kita berakhir dengan kebaikan..
Amin....yaa Rabbal Alamin..

Twitter @Fahrihamzah
22.25-50  29/6/2017