Senin, 03 Juli 2017

GOOD THINGS HAPPEN TO GOOD PEOPLE

Setelah hampir bbrp tahun berpisah, kemarin saya berjumpa dgn 2 sahabat kandidat Doktor. Jangan liat dari gaya berpakaiannya, karna mungkin pakaian bapak-ibu lbh branded dan bagus dari mereka. Jgn liat dari gaya makannya, karna hampir ga ada yg berubah dari gaya makan kita saat sekampus dlu, menikmati nasi, sambal dan kuah kankung cukup dgn jari.

Tak ada yg berubah dari mereka, kecuali kecemerlangan. Bahwa waktu berganti, tapi pembungkusnya tetap kesederhanaan.

Sosok pertama, ahli i'tikaf. Yg saat ini dikasih rizki oleh Allah S3 di Rusia. Saya saksi, saat pengumuman beasiswa study abroadnya dicek dari Hp saya, saat kita itikaf di Al Azhar Kebayoran 5 tahun lalu.

Sosok kedua adalah kandidat doktor perikanan dari Makassar. Yg saban hari melakukan penelitian keliling Indonesia hanya dgn motor. Mirip Che Guevara yg keliling Kuba dgn La Poderosa. Hebatnya dlm perjalanan itu, dia nyempetin galang dana puluhan juta buat masjid Bajo di Wakatobi, yg dilewatinnya.

Ada sekitar 75.000 doktor di Indonesia, tapi yg terpaut dengan masjid, dekat dgn masyarakat, dan tak gengsi dgn kesederhanaan, rasanya gak banyak.

Indonesia butuh jutaan manusia besar seperti ini. Saat pendidikan tak mengubah kesejatian hidup. Seperti Buya Hamka, yg punya 2 honoris causa tapi hidup bersahaja. Atau Pak Natsir yg punya banyak prestasi tapi rendah hati dan tak malu memakai jas dgn tambalan. Atau The Grand Oldman Haji Agus Salim, pahlawan, negarawan, menteri luar negeri, gurunya para tokoh sekaligus diplomat ulung no.1 Indonesia, namun tak punya rumah hingga akhir hayatnya.

Mereka orang-orang spesial yg menghajati dunia hanya sebatas pohon rindang yg disinggahi musafir. Sebentar mereka berteduh. Tak banyak beban yg dibawa. Walhasil dunia gak pernah menyesaki mereka, sebagaimana dunia menyesaki kita. Dan terus saja kita kejar-kejar.

Dan benar, good things happen to good people.

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

(Sapardi, 1982)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar