Senin, 02 April 2018

*DUABELAS PERSEN* Oleh: Ale Ikhwan Jumali

01
Satu konsep dakwah kita yang paling mendasar, adalah al Islam Qobla Jamaah, yakni, menargetkan manusia agar berislam secara kaffah itu jauh lebih dulu daripada mengajak mereka kepada satu jama'ah atau golongan tertentu

02
Dakwah kita itu, mengajak manusia kepada Islam dulu, dengan segala derivatifnya, dengan segala aplikasinya:  mengajak manusia untuk memperbaiki Syaksiyah Islamiyahnya (kepribadian Islam), mengajak manusia untuk menerapkan Syumuliyatul Islam (kesempurnaan Islam) dalam setiap sendi kehidupan

03A
Setelah selesai pada tujuan dasar ini, kemudian kita kenalkan pada amal yang pengaruhnya mendunia, kita ajak beramal secara jamaah, kita ajak untuk bersiyasah. Ya, membesarkan partai dakwah: PKS

03B
Sebagian darinya menyambut dengan kegembiraan, kesepakatan, dan janji setia untuk turut berkontribusi dengan apa saja yang dimiliki. Nah, sebagian darinya lagi, menolak: Ngaji kok berpolitik? Islam ya Islam saja, perbaiki diri, tauhid, keluarga lebih penting, toh politisi ya gitu-gitu saja, bohong semua!

03C
Biasa saja, tidak perlu kecewa pada mereka. lanjutkan saja dakwahnya, semoga dihadirkan ganti yang lebih baik, semoga mereka menemui satu titik kritis dalam hidupnya, betapa politik sangat harus diurus, semendesak kesiapan menyambut seruan jihad

04A
Jika salah satu indikator penerimaan dakwah, adalah jumlah orang yang menyepakati nilai-nilai perjuangan kita, maka tahun depan, berapa banyak orang yang memberikan suaranya pada PKS, sebanyak itulah jumlah orang yang berhasil kita dakwahi (?)

04B
Kita tidak sedang memperbincangkan dakwah siapa yang paling benar, dakwah siapa yang paling sunah, jamaah siapa yang paling dekat dengan nubuwah, tidak! Ini perspective PKS, tidak sepakat ya tidak masalah

05A
Suara PKS di,
1999 : 1.436.565 suara
2004 : 8.325.020 suara
2009 : 8.206.955 suara
2014 : 8.480.204 suara

05B
Dua pemilu yang terakhir, terdapat peningkatan jumlah sebanyak 300.000 suara, tapi ini masih sangat kecil, karena jumlah penduduk Indonesia yang bisa memilih, mencapai 150 juta. Artinya, dakwah lima tahun menghasilkan tigaratus ribu orang saja. Bersyukur iya, kemudian evaluasi, dari segi apa dakwah kita yang masih belum bisa diterima oleh publik (?)

06
Jika dibandingkan dengan hampir semua partai yang lain, sesungguhnya, PKS mempunyai hampir semua alasan untuk menjadi partai papan atas, ya, untuk menjadi pemenang dalam setiap pertempuran di ajang pemilu

07A
Sumberdaya manusia yang disebut sebagai kader partai, yakni orang-orang yang, dengan sangat pasti, insyaAllah, tidak hanya akan memberikan suaranya pada setiap pemilu, tapi juga siap merekrut pemilih dengan target per orang yang telah ditetapkan, jumlahnya jelas, datanya lengkap, name by name, orangnya ada semua, bukan fiktif

07B
Sumberdaya manusia, yang disebut sebagai pendukung partai, yakni orang-orang yang, insyaAllah, pasti akan memilih PKS, juga jelas prakiran jumlahnya, meskipun tidak name by name, tapi bisa diandalkan

07C
Mesin politik juga sangat lengkap, tertata dari tingkat pusat (nasional) sampai dengan cabang (kecamatan). Mereka bekerja tidak hanya menjelang pemilu, tapi setiap tahun, setiap bulan

07D
Uang? Meskipun tidak semelimpah partai lain, tapi ada, dan bisa tak terbatas jumlahnya, semua kader menyumbang, bahkan jika tidak bisa dengan uang, tenaga mereka tak terbatas energinya

07E
Tenaga yang tak dibayar ini: pemasang spanduk, panitia kampanye, tim cyber media, relawan tabulasi penghitungan suara, saksi tps, dan perangkat lain yang tak tersebut, itu semua, jika diuangkan, saya yakin, nominalnya jauh lebih besar dibandingkan modal terbesar dari partai terbesar negeri ini

07F
Kedekatan kepada Allâh? Lihat saja ikhtyarnya, hampir setiap konsolidasi besarnya, selalu didahului dengan target ibadah harian yang tidak biasa. Jika menginap acaranya, selalu ada kajiannya, ada sholat malamnya. Perkara Allâh dekat atau tidak, itu hal lain, tidak ada yang bisa menghakimi, tapi PKS sangat mengusahakan hal itu

08
Tapi kenapa prosentase suara nasional, belum pernah mencapai dua digit padahal kita mempunyai hampir semua syarat untuk memperolehnya? Ya, karena politik tidak sesederhana itu

09
Dakwah kita di bidang politik ini, memang tidak semata urusan berapa jumlah kursi yang berhasil diduduki di parlemen, memang tidak semata seberapa banyak kepala daerah yang menang, tapi menjadi dasar evaluasi pertama dalam melihat, sejauh mana publik mendukung apa yang kita perjuangkan, yakni saat mereka memberikan suaranya pada kita

10A
2019? Kita berlomba dengan delapan belas partai yang lain, untuk mendapatkan tempat di hati rakyat. Beberapa di antaranya, sudah sangat jelas ke mana arah perjuangannya, kitapun demikian, sudah sangat jelas, untuk apa berlelah-lelah dalam jihad ini, padahal ada pilihan untuk duduk khusuk dalam mimbar-mimbar kajian di masjid saja

10B
Ya, Kita memilih turun ke gelanggang, berkotor-kotor dalam apa yang orang bilang sebagai subhat-demokrasi-thaghut, karena hajat hidup orang banyak diatur, saat ini, sepenuhnya lewat politik

11
Mesin politik harus segera dipanaskan, segala permasalahan harus segera diselesaikan, kedekatan kepada Allâh ditingkatkan. Karena bukankah Dia berjanji, bahwa kemenangan akan diberikan, kepada orang-orang yang bertaqwa (?)

12
Dengan segala sumberdaya yang ada, dan pertolongan dari Allâh swt, rasa-rasanya, perolehan suara di 2019 pada angka DUABELAS PERSEN itu, kok ya nampak begitu nyata di depan mata

Ayo, Kobarkan Semangat Indonesia!
Prambanan, 25 Maret 2018

Minggu, 01 April 2018

SERIAL TULISAN TENTANG ANIS MATTA & PKS BAGIAN 2 : ARAH BARU INDONESIA

Kita lanjutkan tulisan tentang  #BiografiPKS, sebuah percakapan dengan @anismatta yang saya rangkum dalam beberapa seri tulisan. Bagian 1 telah saya tulis sebagai Latar dan bagian 2 ini tentang #ArahBaruIndonesia

Secara umum, Indonesia memang mengalami stagnasi. Pada awalnya adalah kematian ide. Ide yang kita miliki 20 tahun lalu cukup untuk meletakkan dasar bagi sebuah perubahan besar. Reformasi adalah pintu masuk bagi sebuah negara yang demokratis.

Lalu, transisi itu begitu cepat. Hanya dalam 1 tahun 7 bulan presiden RI Prof. BJ Habibie tidak saja menyelamatkan perekonomian yang sedang dilanda krisis tetapi juga meletakkan dasar bagi pemerintahan baru yang sah dan legitimate.

Presiden BJH juga meletakkan pondasi bagi proses amandemen Konsutitusi yang nantinya akan dilakoni selama 4 tahapan sepanjang presiden Abdurahman Wahid dan Ibu Presiden Megawati Sukarnoputri. Semua berjalan sukses.

Tetapi apa yang kurang setelah itu? Kenapa kita nampak jalan di tempat? Dua periode setelahnya justru kita bukan ditolong oleh pikiran kita tetapi oleh harga komoditi. Maka yang tida ada setelah itu sampai sekarang adalah satu kata; PENGETAHUAN!

Anis Matta menyebutnya sebagai narasi, dan narasi ini bisa bermakna visi dan mimpi tapi juga bisa bermakna cerita tentang masa depan yang dikisahkan  oleh para pemimpin setiap hari sehingga menjadi buah bibir masyarakat yang akhirnya kesadaran dan keyakinan.

Anis Matta menyebutnya sebagai ARAH BARU INDONESIA, suatu visi yang lahir dari refleksi perjalanan. Kesadaran tentang jati diri dan imajinasi tentang masa depan yang Gilang gemilang. #ABI2019 adalah proposal yang menjanjikan.

Saya kutip di bawah ini beberapa kalimat langsung dari Anis Matta tentang Arah Baru: yang disebutnya sebagai Revolusi Cerdas. Suatu kesadaran baru yang menjadi dasar sebuah perubahan mendasar.

Kita sedang berada dalam peralihan gelombang sejarah, dari gelombang kedua menuju gelombang ketiga. Setelah berkutat dengan urusan internal, sudah saatnya kita melihat ke luar dan mencoba memposisikan Indonesia dalam kancah ekonomi dan politik internasional.

Sebagai bangsa kita perlu terus menanamkan dan mengintensifkan kebutuhan untuk berprestasi (need to achieve). Namun, semangat berprestasi itu tidak boleh terbatas untuk kepentingan pribadi seperti yang digambarkan psikolog Amerika David McClelland.

Kebutuhan akan pencapaian tersebut harus didasari semangat pertangungjawaban sejarah kita. Mau apa kita dengan hidup ini?
Inilah nilai baru yang berkembang dalam struktur nilai masyarakat sebagai hasil dari demokrasi, kesejahteraan, pendidikan, dan pembauran dengan budaya global.

Nilai baru ini melengkapi nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya, yaitu agama dan kebersamaan atau kolektivitas. Nilai kolektivitas juga tercermin dari nilai kekeluargaan yang tumbuh dalam kelompok, komunitas atau organisasi, serta dalam praktik gotong-royong.

Jadi, kombinasi antara nilai-nilai religiositas, kolektivitas dan kebutuhan berprestasi ini akan menjadi pendorong kemajuan masyarakat dan bangsa dalam era peralihan ini.

Perjalanan sejarah di hadapan kita adalah gelombang besar yang mempertemukan antara agama, pengetahuan, demokrasi, dan kesejahteraan.

Agama membentuk karakter bangsa; pengetahuan membentuk kapasitas manusia dan negara; demokrasi menciptakan keseimbangan sosial antara kebebasan dan keteraturan; kesejahteraan adalah output dalam bentuk standar kehidupan yang lebih berkualitas.

Tenaga, pikiran kita harus dicurahkan. Jika pada gelombang pertama tema utamanya adalah eksistensi dan identitas; pada gelombang kedua kita berkutat membangun sistem dan kapasitas; maka pada gelombang ketiga ini, kita bekerja dengan tema utama integrasi dan kolaborasi.

Potensi yang begitu banyak tercerai-berai harus diintegrasikan dan dikolaborasikan untuk kemajuan bersama.

Arah baru Indonesia adalah sebuah revolusi cerdas (smart revolution), di mana perubahan besar dijalankan tanpa goncangan sosial besar karena kita menekan tombol-tombol perubahan yang tepat. Revolusi cerdas adalah perubahan besar mengikuti sistem demokrasi yang berlaku.

Perubahan itu berjalan tanpa mencederai prosedur dan nilai-nilai demokrasi yang selama ini kita junjung. Yang ditawarkan kepada rakyat adalah arah baru yang akan kita tuju, agar kita menjadi bangsa yang sejahtera, kuat, berdaya saing, serta mampu berdiri sejajar dgn bangsa lain.

Solusi bagi krisis narasi dan krisis kepemimpinan adalah lahirnya kepemimpinan nasional yang memiliki visi besar dan mampu menggerakkan seluruh rakyat untuk mencapai visi itu bersama.

Pemimpin yang muncul dalam arah baru ini bukan menawarkan hiburan dan tawa sejenak, tetapi bangunan sistem baru untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Arah baru Indonesia akan membawa kita pada posisi sejajar dengan negara-negara kuat di dunia karena sejatinya kita punya kekuatan dan kemampuan untuk itu. Kita memiliki potensi demografi, kekayaan alam, posisi geopolitik yang strategis, serta pasar domestik yang besar.

Sebagai ilustrasi, Indonesia adalah satu dari tiga negara muslim yang masuk G-20 bersama Turki dan Arab Saudi. Namun, jika melihat Pendapatan Domestik Bruto, Indonesia memiliki ukuran perekonomian yang lebih besar.

Dari segi modal sosial, Indonesia memiliki akumulasi pengalaman demokratisasi yang lebih matang dari kedua negara tersebut. Artinya, potensi itu ada, tinggal bagaimana kepemimpinan nasional yang cakap dapat mengubahnya menjadi hasil yang membawa kesejahteraan.

Kita tidak perlu silau dan larut dalam pujian negara lain atau lembaga keuangan internasional, karena yang harus diwujudkan adalah rasa terima kasih yang tulus dari rakyat seluruhnya. Dengan arah baru Indonesia, kita akan menulis sejarah kita sendiri dengan tinta keringat kita.

Demikian kutipan langsung dari tulisan @anismatta yg saya ambil untuk menutup bagian kedua dari tulisan. Jika bagian pertama adalah latar belakang maka bagian kedua adalah visi #ArahBaruIndonesia dan bagian ketiga adalah tentang #PemimpinBaru.

Twitter @Fahrihamzah 30/3/2018

Anis Matta, Presiden RI 2019

Pada 1 Februari 2013, pada hari Jumat, H.M. Anis Matta, Lc. terpilih menggantikan LHI yang terkena kasus Korupsi. Pada hari itu juga AM melepas kedudukan basahnya di DPR sebaga wakil ketua, untuk fokus  menyelamatkan Partai. Bisa dibayangan moral para kader ketika itu berada pada titik nadir terendah, Kasus LHI berbulan-bulan menjadi pemberitaan di hampir semua media, cetak maupun elekotrnik. Banyak kader terutama di kampus, tertunduk malu, tidak berani mengangkat muka, betapa jargon bersih peduli yang selama ini menjadi jargon PKS tiba-tiba runtuh berserak. Bahkan banyak ikhwah ketika itu tidak berani memakai atribut partai. Malu. Semua survey menempatkan PKS tidak akan lolos treshold, kehancuran PKS diprediksi akan terjadi pada pemilu 2014.

Maka tampillah Anis Matta, bersama para asatidz seperti FH, Alm Taufiq Ridho, Mahfuzh Shiddiq dan yang lain, berkeliling ke seluruh Indonesia, membangkitkan moral para kader. Siang malam mereka bekerja untuk mengangkat kembali citra partai. Di sisi yang lain Fahri Hamzah mengambil peran untuk berhadap-hadapan secara langsung dengan KPK, melawan semua upaya pembusukan partai yang menjust seolah PKS dengan kasus yang menimpa Presidennya, sdh tidak layak dengan tagline *bersih*nya.

Maka keajaiban pun terjadi, dengan pertolongan Allah, dalam rentang waktu kurang dari setahun, citra Partai membaik, moral kader terangkat kembali. Pucaknya ketika Pemilu 2014, PKS berhasil lolos Treshold, membalikkan semua prediksi pengamat dan Lembaga Survey.

Peran AM dan FH, dengan tidak mengabaikan kerja kolektif kader,  jelas memiliki peran yang sangat vital. Hal yang kemudian pelan-pelan peran sejarah mereka mulai dikerdilkan oleh sekelompok orang yang sedang bercokol di DPP (intel atau infiltran?). Pemecatan FH yg ditengarai penuh rekayasa, dicurigai muaranya membidik AM. Sasaran akhirnya adalah beliau (AM). Sekiranya FH tidak melakukan perlawanan, upaya pembersihan AM dan para ikhwah yang dipersepsi pengikut AM akan berjalan mulus. Tapi Allah berkehendak lain. Upaya perlawanan FH, membuka mata sebagian kader, bahwa ada masalah yang sedang terjadi di Partai. Bagaimana mungkin bisa diterima oleh akal, kepemimpinan AM yang berhasil menyelamatkan partai yang diprediksi akan karam, fakta bahwa mayoritas anggota majelis syuro’ dan DPW PKS se-Indonesia menghendaki AM melanjutkan periodenya sebagai Presiden Partai, tiba-tiba tidak jadi, lalu muncul sosok MSI yang terpilih sebagai Presiden Partai yang baru.

Sempat menghilang dari peredaran, Bulan Ramadhan tahun lalu, kerinduan kader akan taujih-taujih beliau terpenuhi. AM kembali hadir di tengah kader, meski di beberapa tempat dan kesempatan coba dihalangi. Forum-fourm beliau dipenuhi sesak oleh kader, gelora semangat kader bangkit dengan  gelegar taujih Beliau.

Sekarang, ketika Indonesia yang kekurangan tokoh yang memiliki narasi, Anis Matta muncul kembali dengan  narasi Arah Baru Indonesia (#ABI2019). Para relawan AMPM For RI1 yang terbentuk di hampir seluruh provinsi, sedang bergerak untuk menjemput takdir, lahirnya seorang pemimpin Indonesia yang dengan kekuatan narasinya, akan membawa Indonesia menjadi negara yang memiliki pengaruh besar di percaturan politik dunia. Para relawan yang mendonasikan dari kantong-kantong mereka mencetak atribut AMPM untuk ditebar di seluruh penjuru Negeri, berharap Rakyat Indonesia bisa mengenal calon pemimpinnya, yang akan membawa  mereka ke kehidupan yang lebih baik, yang akan melayani mereka bukan hanya ketika momen pemilu saja, tapi melayani mereka sepanjang waktu, bukan karena hajatan pencitraan, tapi karena panggilan imaniyah, bahwa hakikatnya seorang pemimpim adalah *khadimatul  ummah* (pelayan masyarakat).

Sesungguhnya Presiden Indonesia 2019 sudah tercatat di *Lauhul Mahfuzh*, siapa yang akan menjadi presiden RI 2019 sudah ditetapkan Allah SWT. Beruntungnya, tidak ada orang yang diberi tahu  siapa orangnya,karena itulah para relawan AMPM bergerak siang malam untuk memastikan orang yang sudah Allah tetapkan sebagai pemimpin indonesia yang baru di tahun 2019 adalah ANIS MATTA. ALLAHU AKBAR.

Makassar, 1 April 2018

(syauqy_arr)

Arah Barunya AM apa?

Jika anda ditanya hal ini. Maka jawablah dengan super singkat:
Membuat Indonesia menjadi poros ke-3 diantara kekuatan dunia yang akan mendominasi, AS dan Tiongkok. Menguatkan institusi demokrasi Indonesia (termasuk sistem ketatanegaraan, pemberantasan korupsi yang sistemik, dll), membuat Economic Engine of Growth yang baru bagi negeri ini, yang tidak mengandalkan alam sebagai bahan jualan. Lalu memberikan fondasi sosial yang kuat yang menggabungkan antara kekuatan demokrasi, bonus demografi, kesejahteraan, nasionalisme dan relijiusitas.

Inilah kira-kira hal-hal besar yang disampaikan Anis Matta dalam pidato perdana Arab Baru Indonesia.

Jika anda diminta mengelaborasi detail-detail Arah Baru ini, jawablah sekarang belum saatnya membahas hal-hal teknis. Karena penjabaran strategi jauh lebih sederhana dibanding menentukan arah peradaban.

Arah peradaban adalah pekerjaan kepempimpinan, sedangkan kampanye bermodal program kerja adalah tugas manajerial, atau level pemilu mahasiswa. 

Kita tidak meragukan kapasitas manajerial Anis Matta yang kenyang dengan pekerjaan kesekretariatan di PKS. Apalagi kemampuan menentukan arah bangsa-bangsa yang berkali-kali teruji. Sering diminta mengarahkan arah dakwah para pemimpin tertinggi muslim Eropa, timur tengah apalagi Asia Tenggara. Untuk yang Eropa itu, saya saksi hidupnya, dimana para pemimpin muslim Eropa bergabung ingin meminta arah baru dakwah Eropa dari seorang negarawan Indonesia ini.

Andaikan dalam perang Badar Rasul kita ditanya Abu Jahal, apa strategi kamu dalam perang ini, Nabi kita yang cerdas pasti hanya akan mengatakan “Menghancurkan kalian dan memenangkan perang ini”. Bukan menjawab “pasukan berkuda disini, pasukan tombak disana…”

Hanya pemimpin bodoh yang mebeberkan program-program strategis di awal pertempuran. Pertempuran uji program strategis baru akan dimulai Agustus nanti saat lonceng pertandingan berdentang.

Maka fokuskan semua energimu pada pengenalan sosok AM dan Arah Baru Indonesia yang global, bukan meladeni celotehan permintaan proker. Karena inilah tahapan kampanye kita. Yaitu membangun ritme bersama Arah Baru Indonesia bersama Anis Matta.

Jika bagaimana jika anda terus didesak dan didebat? Santai saja, kita sedang fokus para proyek besar. Perdebatan adalah kerikil yang mengurangi kecepatan sprint kita. Opini publik tidak dimenangkan dengan kemenangan debat, tapi dengan repetisi masif dan karya kreatif.

Akan ada waktunya argumen-argumen para ahli politik dan kebijakan publik kita bertarung di depan penantang semua. Saat itu terjadi, bersiaplah, karena mungkin mereka akan kelelahan kalau kita turun gunung.

Nantikan, kita akan buat acara #SharingStrategi bagi Gen AMPM di kotamu. Agar gerak langkah fokus, efisien dan tepat sasaran.

#AnisMatta4Presiden
#SaatnyaNgegas
#FokusElektabilitas

Muhammad Elvandi
Relawan AMPM

Kamis, 29 Maret 2018

Spanduk Anis Matta

Spanduk Anis Matta bertebaran dimana-mana, bahkah baliho dan papan reklame. Kader yg berfikir positif langsung bangga, karena gambar capresnya terpampang di area publik, artinya ini kerja-kerja serius. Tidak penting siapa yang pasang yang penting kerja sudah dimulai.

Tapi kader yg neting (negatif thinking) langsung ambil kalkulator, kemudian menghitung berapa biaya produksi, biaya pemasangan plus menghitung berapa biaya sewa reklame per hari. Setelah itu nyinyir dan satire menanyakan dana darimana untuk semua itu...tidak ada kebanggaan sama sekali, tidak ada syukur sama sekali bahwa ada kader sendiri yang serius mau memperbaiki Indonesia.

Tidak sampai disitu, kader neting juga nyinyir dan satire mempertanyakan Arah Baru Indonesia, apa isinya? apa narasinya? Judul doank tanpa isi? Ya begitulah nyinyiran dan satire di produksi tiap hari oleh entah siapa...

Padahal dari 9 kader PKS yang diamanahkan menjadi bacapres baru terlihat Anis Matta yang serius menjalankan amanah itu. Bacapres diamanahkan untuk sosialisasi ke publik dan mendongkrak elektabiltas PKS. Bukan hanya itu, bacapres juga diminta memenangkan calon kepala daerah yang diusung, apalagi kader sendiri. Dan itu sudah dilakukan Anis Matta.

Harusnya yang dievaluasi adalah bacapres yang sudah diberi amanah tetapi tidak optimal menjalankan amanah tersebut. Sekedar teriak-teriak ganti presiden 2019 tetapi kemudian issue diambil capres partai lain, menari di genderang orang lain.

Para kader neting mungkin sudah lupa, bahwa kader-kader PKS adalah kader-kader penuh pengorbanan, bahkan pengorbanan (tadhiyah) adalah rukun ke-5 dari janji setia terhadap partai dakwah. Maklum Kader neting biasanya langsung loncat rukun ke 10 yaitu tsiqoh jadi kurang mengerti makna tadhiyah.

Ternyata banyak kader dengan amal rahasianya menyumbang sebagian rizkinya untuk biaya pembuatan spanduk, baliho bahkan kaos. Ada juga muhsinin yang menginfaq-kan titik reklamenya. Para relawan sumringah ketika memasang spanduk dan baliho walau cuma berbekal segelas kopi dan sebungkus gorengan.

Situasi ini mengingatkan situasi 1999 dan 2004, dimana kader berjibaku tadhiyah dgn harta, waktu dan tenaga mereka untuk memenangkan PKS.

Spanduk, baliho dan papan reklame itu mencerminkan semangat dan harapan untuk punya Presiden RI yang soleh dan berilmu.

Spanduk, baliho dan papan reklame itu bukti bahwa masih ada militansi untuk bisa bekerja optimal tanpa pamrih apapun

Spanduk, baliho dan papan reklame itu adalah 'izzah dan marwah kader, karena kader sendiri layak memimpin negeri ini. Layak menjadi Pemimpin ummat Indonesia.

Spanduk, baliho dan papan reklame itu adalah simbol perlawanan terhadap rezim, bukan sekedar koar-koar ganti presiden 2019, tetapi juga tegas menentukan siapa yang layak mengganti presiden RI di 2019, agar tidak diambil orang lain.

Spanduk, baliho dan papan reklame itu adalah harga diri partai, tiket PKS akan dipakai sendiri not for sale....

Kaum nyinyirun dan satirun terhadap Anis Matta baiknya segera kembali ke jalan yang benar, gelombang Arah Baru Indonesia baru saja dimulai dan akan membesar sudah tidak bisa dibendung. Relawan dari berbagai macam golongan dan profesi sudah terbentuk tanpa taklimat dan tanpa doktrin taat dan tsiqoh. Karena ketaatan dan tsiqoh lahir dengan sendirinya, tanpa harus di paksa dan di doktrin.

Mereka bekerja tanpa pamrih, berjibaku untuk terus sosialisasi dan konsolidasi, dan itu dari Sabang sampai Merauke...Gelombang Arah Baru Indonesia tidak bisa lagi dibendung...Allahu Akbar.....

Deki Kunanjar:
Jakarta , 24 Maret 2018

Rabu, 28 Maret 2018

Misteri Indonesia 2030 Anis Matta


Jakarta - Diskursus tentang kemungkinan Indonesia bubar pada 2030 yang dipicu oleh buku Ghost Fleet (2015) dan dikomentari oleh politisi dan para tokoh Indonesia ini menarik. Saya ingin menggunakannya sebagai momentum mengukur ketegangan geopolitik dunia dan prospek kekuatan Indonesia. Apa yang akan terjadi masih misteri. Sejumlah pemikir strategis memperkirakan 2030 adalah titik persilangan antara menurunnya dominasi Amerika Serikat dengan menguatnya China di bidang ekonomi, teknologi, dan militer. Jika tidak ada interupsi, maka China akan menjadi negara adidaya nomor satu dunia.

Di atas kertas sebenarnya AS masih jauh lebih unggul dari China, dalam hal ekonomi, teknologi, apalagi militer. Namun, yang dilakukan China sekarang adalah memperkecil jarak, seperti pelari di nomor dua yang sedang bekerja keras menyusul pelari pertama. Pada 2030 itulah diperkirakan mereka akan berlari seiring. Dalam perspektif strategi perang, ini berarti China akan siap dan mampu menghadapi AS jika terjadi eskalasi konflik yang serius di Asia dan dunia.

Masalah di Amerika

Amerika Serikat memang masih unggul dalam banyak ukuran namun ia sekarang tengah bergelut dengan krisis legitimasi para pemimpinnya serta konflik elite yang berlarut-larut sejak awal proses pemilihan umum hingga terpilihnya Donald Trump sebagai presiden. Krisis ini menyebabkan AS tidak mampu melakukan mobilisasi sumber daya besar-besaran karena tidak solidnya kekuatan-kekuatan domestik. Jika Amerika memutuskan pergi berperang, hambatan pertama yang akan dihadapi adalah penolakan besar-besaran dari rakyatnya sendiri.

Amerika juga sedang mencari bentuk kebijakan luar negerinya. Slogan Trump "Make Amerika Great Again" dan "America First" membuatnya berorientasi ke dalam (inward looking) dengan cakrawala yang sempit. Faktor ini yang menyebabkan barisan Amerika tampak belum rapi di tengah konflik global yang terus naik tensinya.

Menurunnya kemampuan Amerika melakukan mobilisasi besar-besaran juga disebabkan menurunnya kekuatan ekonomi. Jika dulu "Barat" menguasai sekitar 70-80% ekonomi global, kini tinggal sekitar 40% karena direbut oleh Asia, khususnya China dan India.

Amerika juga masih limbung karena belum pulih dari terpaan krisis ekonomi 2008. Krisis yang dimulai dari kredit macet sektor properti ini berkembang hingga memukul jantung kapitalisme, pasar bebas, dan secara khusus meruntuhkan kepercayaan kepada sistem keuangan global. Satu per satu raksasa keuangan Amerika tumbang, mulai dari Bear Sterns, Lehman Brothers, hingga AIG. Kemudian muncul krisis utang di Eropa yang meluluhlantakkan Yunani dan merembet ke Irlandia, Portugal, Spanyol, dan Siprus. Bersamaan itu, mulai timbul krisis gelombang pengungsi ke Eropa.

Amerika kehilangan legitimasi di Eropa. Ini tampak dari sikap beberapa negara, salah satunya Kanselir Jerman Angela Merkel yang dengan tegas menyatakan sudah waktunya Barat tidak lagi tergantung pada kepemimpinan Paman Sam. Di dalam negeri, Amerika tidak bisa melakukan konsolidasi elite untuk melakukan agenda-agenda besar.

Kembali ke Ghost Fleet, buku ini bisa dibaca sebagai warning dan provokasi agar Amerika segera melakukan interupsi ketika masih dalam posisi unggul. Ada pihak yang tidak menginginkan Amerika nantinya harus masuk ke suatu konflik-bahkan perang --yang tak mungkin dimenangkannya.

Masalah di China

Dengan segala glorifikasi sebagai keajaiban ekonomi dari Timur, China bukan tanpa masalah. Setelah mencapai puncak pertumbuhan ekonomi 14,2 persen pada 2007, mulai 2015 hingga sekarang angka pertumbuhan China selalu di bawah 7 persen dengan tren menurun. Negeri Panda ini belum mendapat momentum lagi untuk menggenjot roda perekonomiannya. Padahal, dalam bahasa yang sederhana, tidak mudah memberi makan sekitar 1,4 miliar manusia. Konsekuensi dari perlambatan ekonomi adalah menurunnya penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan sehingga ancaman revolusi sosial terus membayangi negeri itu.

Masalah kesenjangan ekonomi pun semakin banyak ditulis oleh media internasional. Pada akhir 2016, Forbes mengutip peneliti

an dari Nanjing Agricultural University, menggambarkan China yang terbagi dua: tujuh provinsi pesisir, yaitu Shanghai, Tianjin, Jiangsu, Zhejiang, Guangdong, Shandong, dan Fujian serta bagian Inner Mongolia adalah daerah berpendapatan tinggi; sementara daerah lain di pedalaman adalah daerah berpendapatan rendah. Pendapatan per kapita di daerah pedalaman hanya 60 persen dari mereka yang tinggal di daerah kaya. Tak heran ada yang menyebut, kota-kota pesisir yang berkilau seperti Shanghai, Guangzhou, atau Shenzhen tak ubahnya ruang tamu yang indah untuk menyembunyikan ruang dalam yang sederhana.

Namun, Presiden Xi Jinping lebih mampu melakukan konsolidasi ke dalam, terutama setelah konstitusi negeri itu menghapus masa jabatan presiden. Ia tidak memiliki masalah legitimasi kepemimpinan dan konsolidasi elite seperti yang dihadapi Trump. Xi juga lebih mampu mengendalikan masyarakat sipil untuk konsolidasi agenda-agenda besar.

Konsolidasi kekuatan militer tampak dari belanja persenjataan yang terus naik. Data resmi menunjukkan pada 2016 belanja militer China USD 146 miliar (Rp 1.900 triliun), naik 11 persen dari USD 131 miliar pada 2014. Angka ini menempatkan China sebagai nomor dua persis di bawah AS. Dari sisi industri pertahanan pun China telah menjadi eksportir senjata terbesar nomor tiga dunia, memasok persenjataan ke 35 negara dengan pembelian signifikan dari Pakistan, Bangladesh, dan Myanmar.

Dalam perspektif kritis, agenda Xi memperkuat militer juga bertujuan mengantisipasi kemungkinan terjadinya pembelahan sosial yang tidak terkendali. Konsolidasi elite juga dilakukan dengan memberangus lawan-lawan politiknya melalui isu pemberantasan korupsi.

China dengan cerdas memanfaatkan hamparan kontinen Asia untuk memperkuat posisi geopolitiknya melalui pembangunan jalan dan rel kereta serta jalur pipa gas. Belajar dari Barat, China juga memperkuat dominasinya dengan membentuk lembaga keuangan raksasa Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dengan 67 negara anggota, termasuk sejumlah negara Eropa seperti Belanda, Swiss, Jerman, dan Israel.

China mengadopsi kapitalisme untuk menggenjot pertumbuhan ekonominya, tetapi masih menetapkan komunisme dalam sistem ideologi dan politiknya, seraya menjaga jarak terhadap kapitalisme global. China bahkan mulai masuk ke isu sensitif seperti Palestina-Israel dan konflik Suriah.

* * *

Mengikuti alur di atas, jika tidak ada interupsi, China akan menjadi negara adidaya nomor satu di dunia. Interupsi yang mungkin terjadi adalah krisis ekonomi dalam skala besar atau perang. Itulah misteri yang baru akan terjawab pada waktunya. Lalu, di mana Indonesia di tengah konflik yang memanas ini? Katakanlah, jika Laut China Selatan mengalami eskalasi, apa yang bisa kita lakukan?

Lebih penting lagi, bisakah Indonesia menjadi faktor interupsi agar perimbangan kekuatan dunia tetap terjaga sehingga usia perdamaian bisa lebih panjang? Itu yang harus dijawab oleh para pemimpin. Jika bisa mengelola semua potensi yang dimiliki, seharusnya Indonesia duduk di meja utama perundingan dunia.

Anis Matta
Pengamat politik internasional

https://news.detik.com/kolom/3938767/misteri-indonesia-2030

MEMBACA ANIS MATTA & BIOGRAFI PKS


PKS adalah harta berharga Ummat Islam dan Bangsa Indonesia, lahir bukan karena uang atau ego orang-orang besar tanpa ide dan pikiran. PKS lahir sebagai bagian dari ikhtiar mengisi reformasi 1998 yang hampir 20 tahun berjalan. PKS lahir dengan ide dan idealisme.

PKS lahir memikul ide untuk menegakkan keadilan dan menebar kesejahteraan. Adil dan Sejahtera adalah termasuk 2 isu inti dalam negara. Dan Islam sebagai pondasi PKS meletakkan 2 isu itu sebagai dasar untuk membangun kehidupan bersama apapun bentuknya.

Saat reformasi mulai bergema di ujung 1997 akibat krisis ekonomi yang melanda Asia Tenggara, para aktifis dakwah berkumpul merumuskan antisipasi dan bentuk baru pergerakan jika ada perubahan mendasar. Dan perubahan berlangsung lebih cepat dari yg diperkirakan.

Keruntuhan rezim orde baru adalah peluang bagi semua orang, termasuk bagi itikad baik para aktifis pergerakan. Maka, sebuah partai dilahirkan melalui sebuah perdebatan panjang. Salah seorang inti pemikiran itu adalah @anismatta, seorang pemikir dan aktifis pergerakan.

Ini nanti yang menjelaskan kenapa @anismatta begitu nampak mengakar? Karena ia meletakkan narasi dan dasar berpikir dalam pergerakan partai lebih banyak dari orang lain. Ini soal biografi pikiran yang barus kita tuliskan.

Nanti saya akan mulai tulis percakapan saya dengan @anismatta kemarin saat saya menghampirinya tak jauh dari Geneva ke Budapest tempat beliau sedang ada urusan keluarga. Sebuah percakapan padat tentang masa depan Islam dan Indonesia sebagai harapan baru dunia.

Kenapa setelah #20TahunReformasi bangsa nampak diam dan mendekam? Kenapa pembaharuan berhenti? Kenapa negara jatuh ke tangan amatiran? Kenapa PKS stagnan dan berujung perkelahian? Apa harapan kita ke depan? Semua hadir dalam percakapan bersama @anismatta .

Dari Geneva, Swiss saya sempat mampir ke budapest sehari berjumpa @anismatta, sahabat guru dalam banyak hal. Beliau sedang ada acara keluarga dan pas saat saya bisa bertemu dan meluangkan waktu seharian.  Dari pagi sampai malam dan berpindah tempat.

Belakangan beliau memang cukup sering ke luar negeri untuk banyak urusan; seminar, berbisnis dan juga urusan keluarga di negeri seberang. Saya mampir karena kalau di Jakarta pun kadang sulit bertemu dan mengatur waktu. Dialog yang berkesan.

Maka melanjutkan waktu yang ada, saya mencoba mendengar apa evaluasi beliau atas peristiwa kita  belakangan. Bukan semuanya, sebab sebetulnya kami juga sering banyak bicara dan membaca sejarah kita.  Sejak masih menjadi mahasiswa .

Saya kuliah di FEUI (Fakultas Ekonomi UI) dan beliau berkuliah di LIPIA yang juga berada di jalan Salemba, Jakarta.  Selain karena kampus yang berdekatan kami juga tinggal berdekatan. Saya menjadi pengurus masjid ARH yang  bersejarah itu.

Kampus pak @anismatta Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) adalah cabang Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud Riyadh didirikan pada tahun 1400 H/1980 M. Saat ini LIPIA Jakarta berlokasi di Jalan Buncit Raya No. 5A, Ragunan, Jakarta Selatan.

LIPIA dalam sejarah pergerakan #BiografiPKS adalah kampus yang cukup penting. Ia tidak saja menyuplai para aktifis tetapi juga menjadi pemberi warna dari kajian kampus yang terasa kering. Mereka membawa gagasan yang lebih menyala.

Anak-anak LIPIA ini diundang sebagai mahasiswa dan mendapatkan beasiswa yang cukup dari universitasnya. Itulah sebabnya saya menemukan lulusan terbaik dari pesantren di seluruh Indonesia akhirnya berkuliah di LIPIA. Mereka tumbuh cemerlang.

Sebenarnya banyak tokoh nasional dengan berbagai spektrum pemikiran pernah mengenyam pendidikan di LIPIA. Orang seperti Habib Rizieq dan Ulil Absar dan banyak lagi pernah mampir sekolah. Ketua Majelis Syuro PKS Ust. Salim Aljufrie adalah dosen LIPIA.

Maka, di antara yang menonjol dan menyelesaikan studinya di LIPIA serta lulus dengan predikat terbaik adalah @anismatta. Sejak mahasiswa beliau memang nampak istimewa, beliau menjadi narasumber yang menarik jika sedang bicara berbagai tema.

Anis Matta bicara banyak tema; mulai tema fiqih tentang semua hal sampai tema kepribadian; cinta, membangun relasi yang baik, pesona, sampai tema politik, negara dan pergerakan global. Beliau menulis banyak buku dan serial termasuk soal demokrasi dan kepahlawanan.

Itulah yang membuat saya dekat. Saya bergaul dan tumbuh bersama secara intelektual. Kami mengalami masa-masa ketika pikiran mencoba menemukan jawaban. Lulus dari FEUI dan LIPIA kami mendaftar di S2 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MPKP) UI tahun 1997.

MPKP adalah program baru yang di buka Pascasarjana UI dan direktur pertama program ini adalah Ibu Sri Mulyani, yang sekarang menjadi menteri keuangan. Kami tinggal di Utan Kayu dan kuliah di Depok. Setiap hari di atas kereta api kami berdialog pagi dan sore.

Kuliah S2 nampaknya tidak bisa lama, sebuah denyut sejarah berdetak semakin keras. Akhirnya ujian tengah semester MPKP sekitar bulan Februari 1998 kami bolos, nampaknya ada persiapan lain yang sedang dilakukan, Reformasi!

Anis Matta adalah konseptor, ia menulis banyak hal dalam transisi kita. Sewaktu kami menyelenggarakan Forum Silaturahim LDK (Lembaga Dakwah Kampus) di Universitas Muhammadiyah Malang, beliau hadir menjadi narasumber. Prabowo juga dijadwalkan hadir meski kemudian batal.

Kita ketahui kemudian bahwa FSLDK Malang tanggal 29 Maret 1998 melahirkan organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang akhirnya banyak tokoh utamanya menjadi pendiri PK atau sekarang menjadi PKS.

Demikian sejarah sebuah pertemuan. Tentu banyak tokoh yang saya temui tetapi kali ini saya menulis soal seorang pemuda yang memberi kesan kepada pergerakan. Seorang penulis, aktifis, ideolog dan marka perjuangan. Dialah anis matta.

Saya ingat, saya menjadi wakil sekjen beliau di PKS belasan tahun. Dan mendapatkan pengalaman terbaik untuk menjadi yang mengerti tentang sejarah sebuah ide. Anis matta tidak saja pemikir Islam tetapi juga pemikir ilmu dan sejarah sosial dunia yang mendalam.

Bacaannya luas, pengertiannya tentang agama yang berasal dari kitab-kitab klasik membuatnya mudah berkomunikasi dengan kaum tradisionalis pesantren dan klasik tetapi kemampuannya membaca dan bergaul membuat ia aktual membaca peta terkini kita.

Lalu apa saja yang kami percakapkan? Bagaimana Anis Matta membaca peta masa depan? Bagaimana AM melihat situasi sekarang? Sebuah percakapan padat di sudut kota Budapest kemarin. Nanti kita lanjutkan.

Twitter @Fahrihamzah 28/3/2018