Jumat, 09 Juni 2017

18 TAHUN PKS & GELIAT GENERASI DIGITAL

Ayo anak muda..luruskan niat...jangan bergeming..jangan beri ruang penyakit hati

Ada yang terus mengadu dan memisahkan saya dengan PKS...insya Allah akan gagal

Saya tidak pernah pergi dari gelanggang...dan tidak akan pergi meninggalkan perang..

Saya tidak pernah tidak taat...seperempat abad

Ini hanya perbedaan pendapat..tentang suatu yang publik bukan soal privat…

Kalau soal privat dan soal internal partai saya tidak mungkin membantah karena hak yang berkuasa..

Seperti saya tidak diajak masuk struktur partai tanpa posisi dan jabatan..saya diam saja

Saya tahu diri kalau saya tidak menjadi pengurus partai. Tidak ada beda pendapat.

Tapi ini beda pendapat tentang jabatan publik yang bukan jabatan partai..saya berbeda pendapat.

Karena ini ruang publik, jabatan publik memakai uang publik maka ada hal publik. Layak saya berbeda.

Saya tidak akan biarkan partai ini jatuh ke jurang penyalahgunaan dan penyalahpahaman..

Perbedaan pendapat soal ini tidak layak (saya) dihukum...partai harus tahu batas.

Ini akar tradisi politik modern...pengertian beda yang privat dan yang publik

Dan saya berbeda pendapat dengan segelintir orang..bukan dengan kader dan partai..

Saya yakin kader lebih mengerti jika kita membaca peta lapangan..

Kita pernah mengalami bencana hampir bubar karena kelakuan segelintir pimpinan bukan partai dan kader.

Modernisasi partai terjadi manakala kita bisa membedakan mana pimpinan dan mana partai..

Jika gagal..nanti daya tahan partai pindah dari kebesaran partai kader kepada segelintir pimpinan. Bahaya.

Partai ini kuat jika di dalamnya banyak orang kuat..partai ini lemah karena kader dianggap hanya suara..

Kader adalah segalanya..partai Harus menjadi payung raksasa untuk para raksasa..

Jika payung partai  kita kecil maka jangankan raksasa..ruang bagi bangsa saja tidak ada..

Partai Harus membangun tradisi baru..dengan platform Islam dan demokrasi

Demokrasi sebagai sistem bernegara harus ditekuni karena itulah ekosistem bersama kita.

Islam sebagai nilai yang kita promosikan adalah yang menang dan pernah membuat dunia tercengang.

Jangan mau ikut orang ber-Islam dengan sempit dada sebab itu salah sejak awal.

Islam kita adalah yang membebaskan..membebaskan dari belenggu dan kepalsuan.

Kita tidak menyembah partai - kita menyembah Allah. Partai adalah cara dan ikhtiar kita membangun kebaikan.

Kritik kepada pimpinan bukan maksiat kepada Allah dan Rosul...tapi perintah untuk saling menjaga.

Jangan takut berbeda pendapat...mengelola perbedaan pendapat adalah tradisi para Anbiya.

Kita tidak akan pernah menjadi pemimpinan masyarakat kalau perbedaan di dalam kita tidak bisa kelola.

Mungkin ini soal kapasitas generasi. Ada yang biasa berbeda pendapat dan ada yang belum biasa.

Kita sekarang hadir dalam generasi penikmat kompleksitas.

Struktur meleleh kebebasan menguat dan kader tumbuh dengan insiatif dan inovasi bukan instruksi.

Masa depan partai ada pada  generasi kreatif yang memiliki pendekatan lebih kompleks.

Ini bukan hanya problem partai tapi juga problem nasional.

Indonesia akan tenggelam di tangan pemimpin yang tidak biasa dengan kompleksitas

Kenapa teknologi digital makin berkembang karena permintaan kompleksitas.

Karena situasi semakin kompleks partai perlu  persatuan.

Harus ada kerendahan hati untuk melihat kenyataan bahwa situasi berubah dan kader tambah beragam.

Maka seharusnya pimpinan bertindak sebagai mediator dan moderator.

Kita sebagai kader, harus bersabar menghadapi ini...saya sedang uji keputusan pimpinan di depan hukum.

Karena AD/ARTpartai menuntun ke sana. Bahwa sebagai kader saya punya hak menggugat.

Dalam Islam hal menggugat itu mendasar. Adalah gak asasi semua orang. Apapun agamanya.

Karena hak gugat inilah seorang khalifah Ali bin Abi Thaib bersengketa di pengadilan bersama seorang pemuda Yahudi

Seorang khalifah meng-klaim baju besi seorang pemuda...ia menolak dan menggugat.

Seorang khalifah kalah di depan sidang karena tidak punya alat bukti.

Dan khalifah menerima kekalahan itu dengan lapang dada yang membuat pemud FH News:
a itu terpesona.

Ini tradisi hukum warisan Islam. Mari kita hargai.

Partai jangan mengambil dulu semua hak-haknya sebelum ada keputusan yang berkekuatan hukum tetap.

Jangan isolasi saya dari kader sebab itu dosa

Partai jangan mengambil hak melebihi yang Allah Bolehkan, melebihi yang negara Bolehkan.

Kita ini warga negara Indonesia . Kita ini umat beragama. Kita ini bersendi Pancasila

Jayalah PKS, semoga Allah membimbing kita semua.

Maju terus kader dan pengurus PKS, semoga Tuhan yang maha kuasa memberi kita kekuatan. Amin.

Mari doakan segenap pimpinan kita semoga Allah SWT memberikan hidayah-Nya

(Dari twit Fahri Hamzah : Minggu 24 April 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar