Tema "Ramadhan Sebagai Momentum Untuk Meneguhkan Komitmen Perjuangan Mewujudkan Cita Muslim Negarawan"
1. Barusan saya dari acara Fadli Zon. Diminta membacakan puisi tentang Pancasila. Di Taman Ismail Marzuki.
2. Karena hari ini adalah Hari Kelahiran Pancasila, maka momen Ifthor ini kita jadikan sebagai bagian dari peringatan Hari Lahir Pancasila.
3. Sebagai seorang aktivis dakwah, maka kita harus perbaiki cara pandang kita terhadap situasi.
4. Karena Dakwah harus memiliki cara pandang atas segala situasi yang sedang terjadi.
5. Setiap generasi harus memiliki kemampuan yang komprehensif dalam menghadapi situasi.
6. Kita adalah generasi baru. Generasi yang menjadi pelopor. Kita lahir di era ketertutupan.
7. Kita lahir ditengah gelombang siklus duapuluh tahunan. Kita menjadi penanda
8. Generasi baru yang lahir ini harus memiliki pengertian baru atas situasi negeri ini.
9. Maka saya mengajak kita semua untuk mengasah kemampuan mambaca kompleksitas.
10. Saya semakin melihat dengan kepala dan pikiran sendiri bahwa akar krisis kepemimpinan ini akan muncul.
11. Fenomena kampanye "Saya Indonesia" itu adalah bentuk kecemasan dan ketidakmampuan membaca kompeksitas
12. Kita balikkan kampanye itu dengan menyerukan "Saya Indonesia. Saya bukan mualaf Pancasila"
13. Gerakan Saya Pancasila ini lahir dari kegamangan. Karena habis kalah pilkada. Lalu marah. Kepada semua. Termasuk kepada penguasa.
14. Kita sudah lama ber-Pancasila. Sudah hapal diluar kepala seluruh silanya. Karena itu tidak diliputi histeria.
15. Fenomena kegaduhan ini adalah ekor dari ketidakmampuan menghadapi persoalan yang kompleks.
16. Tema kebebasan, keterbukaan, equality before the law, tirani mayoritas, tirani minoritas adalah tema yang harus dimengerti dengan dalam. Karena ini rumit.
17. Karena ini sulit maka kelihatannya akan ada kegagalan mengelola kompleksitas ini. Nantinya akan berlanjut pada kegagalan memimpin
18. Kita tidak berharap kepemimpinan ini jatuh ditengah jalan. Tapi kelihatannya akan ada transisi.
19. Transisi yang membuka jalan bagi adanya legitimasi pemetintahan yang lebih kuat. Kita kawal
20. Ekor dari krisis ini muncul dari fakta bahwa kompleksitas ini tidak mampu dikelola. Tidak mampu menerjemahkan realitas baru.
21. Mana makar mana berbendapat. Mana yang berserikat mana yang makar. Mana penghinaan mana kritik.
23. Inilah tanda yang menandai siklus dua puluh tahunan gelombang itu. Akan ada perubahan yang akan menjelaskan kegamangan itu. Menjadi terang.
24. Tapi kita jangan berharap bahwa rezim ini akan jatuh, karena kejatuhan (ditengah jalan) ini akan menjadi sumber krisis baru
25. Kita mengalir bersama Gelombang yang akan menuntaskan jenis rezim yang tidak mengerti persolan diatas.
26. Dan jika masalah kompleks bangsa ini selesai, nantinya kita akan muncul menjadi kekuatan baru ditengah dunia yang miskin ide dan gagasan
27. Kemarin dalam pertemuan negara Islam, Donald Trump dan Raja Salman jd pusat perbincangan.
28. Trump turun dari tangga pesawat. Diterima dengan karpet merah. Setelah maki-maki tentang Islam.
29. AS mendapatkan suntikan investasi sebesar US $ 380 M atau sekitar 5130 T.
30. Trump dikasih kesempatan mempidatoi didepan pemimpin Islam. Kata Trump, agama saudara-saudara punya masalah.
31. Dengan kebebasan, demokrasi, civil society dan seterusnya. Paham apa Saudi Arabia dg demokrasi. Tapi Trump kantongi duit. Bisa tarik investasi
32. Dia bisa paham peta ekonomi global. Apa maunya negara-negara tetangga. Tidak seperti kita.
33. Pemimpin kita rupanya tidak paham demokrasi, juga tidak paham peta politik luar negeri.
34. Soekarno paham dengan presisi sekali tata dunia global. Makanya pintar berselancar dan bermain.
35. Inilah fakta. Bahwa ini kegagalan pemerintahan. Pemerintahan yang disokong oleh generasi yang tidak punya sejarah melawan.
36. Maka yakinkan diri kita bahwa penggantinya adalah generasi yang lahir 20 tahun yang lalu. Yang mengerti bagaimana kelemahan proses ini.
37. Generasi yang mampu bekerjasama dengan kejamaahan dan juga mampu belerjasama dengan semua pihak dalam politik.
38. Generasi lama harus tahu diri. Tapi memang ini adalah benturan antar generasi. Kadang tidak rasional sikap-sikapnya.
39. Banyak sekali reaksi yang tidak rasional penjelasannya. Inilah kegamangan menghadapi kompleksitas itu.
40. Mari kita optimis bahwa generasi baru ini memenangkan dakwah politik. Dan menata negara. Dulu orde baru terlalu mapan, kita yang bisa hadapi.
41. Saya membaca gerakan Macron. Saya membaca En Marche. Ini adalah bentuk dari "winning the narrative". Proses memenangkan narasi.
42.Narasi Islam sejauh ini sudah kuat. Tinggal kita gelindingkan En marche. Pawai gagasan dan massa yang solid.
43. Maka bisa dilawanlah "narative baru" yang disampaikan Jokowi yang gamang dan reaksioner itu.
44. Walaupun kita tahu, Jokowi sekarang sedang ditunggangi oleh kelompok yang sedang kecewa. Kekecewaan karena kalah.
45. Sampaikan, kita bukan Mualaf Pancasila.
46. Hari ini, naratif Islam itu sudah menang. Sudah menjadi jejaring gerakan. Saya lihat dimana-mana muncul jejaring baru isu Islam.
47. Modal kita sudah ada dua. Narrative sudah ada. Gelombang Islam sudah ada. Siapa yang menggelayut, dia menang.
48. Kemenangan Anies Sandi bukan karena partai. Tapi karena calon menggelayuti gelombang narasi Islam. Diuntungkan oleh gerakan.
49. Jejaringnya sudah ada. Tapi kita mesti cermati. Tokoh gerakan hari ini bukan parpol. Partai tidak dapat tempat.
50. Siapa yang bisa memimpin gelombang ini. Itu pertanyaannya. Figurnya siapa.
51. Menurut saya, 2017 ini, kita harus bisa fokus dan jelas menunjuk siapa yang fasih menjadi juru bicara.
52. Kita cari juru bicara yang fasih menjelaskan tentang narasi Islam dan juga yang mampu menganyam seluruh kekuatan.
53. Sekarang ada yang mulai menggaungkan Kanan Baru. Islam, nasionalisme dan demokrasi sebagai tesis. Kita lihat.
54. Kita pelihara narasi ini. Kita pelihara dan jahit gelombangnya. Tapi harus berhati-hati. Karena menurut saya, terlalu Kanan juga bahaya.
55. Dan Kepemimpinan itu kita percaya kepada Takdir. siapa yang dinaikkan Allah dan diturunkan oleh-Nya.
56. En marche yang digerakkan oleh Macron itu tidak ke kanan dan juga atau kiri. Berada di wadah besar.
57. Tahun depan harus ada peta yang sudah lebih jelas.
58. Indonesia kalau dipimpin oleh orang yang tidak mengerti Islam, maka simpul-simpul ini menggelegak.
59. Kalau situasinya dipanaskan, dan meletup maka yang dapat tempat adalah yang syubhat.
60. Orang yang menyeret Indonesia ke titik ekstrim inilah yang kita lawan. Orang yang tidak happy dengan keberagaman.
61. Demikian. Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar