Senin, 12 Juni 2017

CERITA TENTANG IFTHOR JAMA'I BERSAMA KELUARGA ALUMNI KAMMI (1): Pemuda Paling Bahagia

Ramadhan hari keenam. Tanggal 1 Juni. Hari Kelahiran Pancasila. Hari ini juga, Alumni KAMMI adakan Ifthor Jama'i. Jalan-jalan Jakarta sedang tak macet. Orang-orang masih mengurung diri dalam kesibukannya. Dua jam lagi waktu berbuka. Takjil dijual di banyak jalan dan ruang terbuka. Pinggir jalan di Senayan penuh dengan makanan. Di pintu masuk saya berpapasan dengan Fariz, anak muda dari Bogor.

Saya terburu-buru masuk ke Rumah dinas bang FH yang ada di samping pintu masuk Gedung DPR RI. Peserta masih sepi. Kebanyakan justru dari luar kota yang datang terlebih dahulu. Beberapa ibu-ibu membentuk lingkaran kecil. Saling bertanya kabar. Mungkin juga saling bertanya momongan dan berbagi tips masak.

Alumni KAMMI yang laki-laki berada di ruang tengah. Amang, Taufik, Amin, Erizal dan Samsani. Masih banyak lagi yang lain. Saya, Erizal dan Samsani baru datang jam 12 siang tadi dari Medan. Kami berada disana beberapa hari. Raut lelah masih nampak. Kami semua. Belum juga hilang. Nampak diuar, beberapa alumni dari Indonesia Timur, duduk. Ada Ustadz Syamsari Kitta, bupati terpilih dari Takalar. Dan yang lainnya. Saya sempatkan foto bersama.

Kami saling berbincang. Tapi tak lama. Saya undur diri pamit mau selesaikan target tilawah. Tak lama, Fadhli, aktivis KAMMI yang lama kuliah di Bogor dan sekarang tinggal di Gorontalo, mengajak bicara. Di samping saya ada juga Jusman Dalle. Penulis dan analis ekonomi muda yang sekarang menjadi konsultan marketing beberapa korporasi besar. Sedang menata diri, katanya.

Tema Bukber KA KAMMI kali ini; "Ramadhan Sebagai Momentum Untuk Meneguhkan Komitmen Perjuangan Mewujudkan Cita Muslim Negarawan". Sengaja tema itu kami ambil, pertama, agar alumni KAMMI bisa fokus untuk meningkatkan ruhiyah dan kematangan jiwanya selama Ramadhan. Kedua, menjadi dentang alarm yang berbunyi; agar Ramadhan juga bisa menjadi momen muhasabah gerakan dakwah Alumni KAMMI.

Ketiga, menjadikan Ramadhan bandul penguat impian dan cita-cita kepemimpinan Alumni. Menjadi pelopor persatuan dan batu bata kebangkitan umat dan bangsa. Keempat, momentum Ramadhan adalah momentum untuk membaca tanda-tanda dari perubahan bangsa ini, dan menentukan peran Alumni.

Pukul 16.45, Fadhli, didaulat menjadi MC dan membuka acara. Akmal Jun mengisi tilawah. Bang FH mengabari, selesainya ia dari acara membaca puisi di Tadarus Puisi Ramadhan yang diprakarsai Fadli Zon di Taman Ismail Marzuki (TIM), ia akan segera meluncur ke tempat acara. Bang FH membacakan dua puisi di acara Tadarus Puisi. Judul pertama "Mimbar". Judul kedua "Jaket Yang Berlumuran Darah".

Selesai tilawah, MC mempersilahkan Amang, Sekjen Keluarga Alumni KAMMI memberikan sambutan acara. Kata Amang, semoga Ramadhan ini mampu membangun kesadaran bahwa kita adalah aktivis dakwah. Amang juga mengingatkan bahwa Alumni KAMMI harus berani dan siap mengambil tanggungjawab yang diambil. Sekarang, sudah punya pasangan dan keluarga, sudah punya komunitas dan sebagainya. Tanggungjawab kepemimpinan di tempat-tempat itu harus dilaksanakan oleh masing-masing alumni.

Selesai sambutan Sekjen, MC kemudian memberikan waktu kepada Ustadz Pitoyo Marhaban, seorang ustadz sepuh yang berpuluh tahun malang-melintang di dunia dakwah. Beliau seakrang banyak membina anak-anak muda di daerah Pulogadung. Dalam taujihnya, Ustadz Pitoyo menyatakan kegembiraanya bertemu anak-anak muda Alumni KAMMI.

Penanggung beban dakwah itu disebut rijaluddakwah. Kata "rijal" itu berarti pemuda. Kebenaran itu sifatnya seperti pemuda. Kita bisa saja menjadi tua. Bertambah usia. Tapi kebenaran tak bisa tua. Ia abadi bersama kehidupan itu sendiri. Ia pupus ketika pengadilan akhirat tiba dan menjadi saksi dari apa yang kita yakini dan perjuangkan.

Tugas yang penting bagi kita para pemuda adalah, pertama, dzikir kepada Allah. Meninggikan kalimat Allah adalah tugas yang mulia. Kedua mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Kita taat kepada Allah sampai tua dan meninggal. Jika itu yang istiqomah kita lakukan, maka kita menjadi orang yang paling bahagia hidupnya.

Ditulis dan dirapikan dalam perjalanan Jakarta-Praya, 2 Juni 2017

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar