Jumat, 16 Juni 2017

YANG TIDAK MAU TERBUKA PASTI PUNYA AGENDA RAHASIA


Korupsi Bank Century aman berkelana...6,7 Trilyun ada di mana?

Cek kosong kepada KPK jangan lagi diberikan... sebab KPK pun bisa jadi tempat para pelindung korupsi...

Bukti-bukti saya akan saya serahkan ke Pansus Angket agar diverifikasi secara seksama...

Banyak penghilangan alat bukti... tepatnya penyerobotan alat bukti... ada juga skandal aset sita...

Tonton aja, pasti rakyat senang dan bahagia...
Yang tidak mau terbuka pasti punya agenda rahasia...

Jangan mau percaya ada lembaga yang hebat sendiri... bohong.. kita memang mudah ditipu... lembaga negara sama aja...

Yang menjadikan KPK sebagai holycow atau memitoskannya punya agenda di belakangnya..

Ada yang cari hidup, ada yang cari perlindungan.. ada yang cari popularitas dan ada yang cari nama... karena mau ikut kontes...

Ada partai baru pendukung pejabat calon tersangka korupsi.. maka dia cari kontak ke dalam KPK untuk saling bantu...

KPK hari-hari ini lagi jual murah...
Siapa aja yang datang mendukung pasti akan diterima.. termasuk antek reklamasi...

Kita jangan mau lagi dibohongi...
Ini aksi menutup kebenaran..
Pengalihan dan pembodohan dari isu sebenarnya...

Waktu Prof Rudi Rubiandini, alm Sutan Batugana dan Jero Wacik ditangkap gara2 uang THR lebaran... KPK bilang pintu masuk Mafia Migas..

Ternyata bohong... ini hanya soal dana operasional menteri... ratusan juta...

Waktu Suryadarma Ali ditangkap bilangnya pintu masuk Mafia Haji....Ternyata dana operasional menteri lagi..

Tapi memang kita senang dibohongi...
Mungkin ada semacam kebahagiaan kalau dibohongi...

Pansus Angket KPK ini akan membuka mata kita sebagai sebuah bangsa.. setelah 15 tahun UU ini lahir..

Sebab banyak orang yang terpukau dengan sulap dan akrobat... tapi hasilnya hanya kegembiraan sesaat...

Sulap dan akrobat tidak menyelesaikan masalah.. ia adanya memberikan hiburan dan kegembiraan..

Sementara negara bukan rumah sulap bukan pula akrobat atau klub sirkus... negara bukan pelawak.. negara punya tugas berat..

Negara bekerja memakai dana rakyat yang terbatas... setiap tindakan menggunakan uang dan kewenangan harus bertanggungjawab..

Jangan sampai pemberantasan korupsi tidak dipertanggungjawabkan padahal uang terpakai sudah trilyunan..

Saya sendiri punya kecurigaan bahwa sebagian lembaga negara terutama yang ad hoc tdk mau masalah selesai..

Supaya tetap relevan dan supaya tetap ada kegiatan, pakai APBN.. soal korupsi saya curiga... karena polanya mulai nampak..

Semua ini bisa terang kalau dibuka...
Kasus2 yg ada ini seperti hanya dagelan.. gak selesai dan tak ada ujung pangkal..

Kasus dianggap ada kalau ada yang tertangkap tangan... lalu hilang tidak jelas tujuan pemberantasan korupsinya..

Sensasi didahulukan daripada azas kemanfaatan lain yang ada dalam UU...

Saya lagi mempelajari kasus EKTP... saya mulai mencium ini kasus sama saja.. lebih banyak unsur fiksi daripada kebenaran..

Dikisahkan....(hehe)
Ada pembagian uang sebanyak 2,3T atau lebih dari 50% dari nilai proyek.. bancakan anggota dpr...

Bagaimana bisa sebuah proyek yang dirampok lebih dari 50% di depan lalu bisa selesai? Dan ektp relatif sudah selesai.

Lalu uang itu mana?
Siapa yang makan?
Emang gampang makan uang 2,3 Trilyun...?
Ini semua fiksi yg kita dipaksa terima..

Sampai sekarang yang makan uang gak jelas.. sementara proyek sudah selesai.. alhamdulillah..

Jadi KPK mengembangkan fiksi dari seorang yang kalah tender... yang pernah denger2 ada bagi2... ini yg sampai kemarin masih jadi Headline koran..

Koran dari kelompok tertentu seperti liurnya menetes kalau dengar ada berita bagi2 uang dari ruang sidang...

Dan KPK mengirimnya ke ruang sidang... tanpa verifikasi... atau dengan tekanan supaya seseorang menyebut nama seseorang...

Sehingga bangsa menuai keributan...
Tapi hasilnya tidak ada...

Twitter @Fahrihamzah
12.52-14.20  16/6/2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar