Sebelum saya lanjutkan, saya ingin bercerita bahwa bang FH datang ke tempat acara tepat pukul 17.14. Setelah Ustadz Pitoyo selesai, bang FH memberikan taujih kepada Alumni yang hadir. Rangkuman taujihnya, ada dalam sesi tersendiri. Tapi intinya, bahwa negara sedang mengalami kegamangan karena tiadanya narasi dan ketidakmampuan menghadapi kompleksitas. Gagap dan panik. Lalu membuat kampanye macam-macam. Membuat langkah-langkah konyol. Tapi itulah tanda dari gelombang perubahan yang sedang terjadi. Kita harus menyiapkan diri. Dengan narasi Islam dan parade massa dan gagasan. Kita harus memperjelas posisi, peta dan juru bicara. Lalu kita akan menjadi pengganti atas jenis rezim yang tidak mengerti situasi bangsa ini.
Begitulah kira-kira taujih dari Presiden Alumni KAMMI. Taujih dua babak sebelum dan sesudah buka puasa. Setelah taujih babak pertama dari Presiden KA KAMMI selesai, kami berbuka dengan kurma, air putih dan teh hangat. Ruangan penuh. Ada sekira hampir dua ratusan alumni hadir dari berbagai daerah. Ada bupati Takalar terpilih kanda Syamsuri Kitta. Ada Ustadz Husein dari Halmahera Selatan yang juga merupakan Ketua Komisi 1 DPRD setempat. Ada juga kawan alumni KAMMI lulusan Unhas yang menjadi anggota DPRD Provinsi yang di sebuah provinsi di Sulwesi Selatan. Ada juga bang Andi Rahmat, mantan Ketua PP KAMMI ketiga yang sekarang menjadi pengusaha tapi aktivitasnya sehari-hari tak pernah jauh dari dunia politik.
Setelah shalat maghrib usai, kami dipersilahkan makan makanan berat dan berbincang. Selanjutnya, acara kami isi dengan ramah tamah. Amin menjadi pengatur acara. Sambutan pertama datang dari Ustadz Husein. Dari Timur Indonesia. Selain menjadi anggota DPRD, juga menjadi pengurus KA KAMMI. Dan ikut menghidupi organisasi. Anggota DPRD di Halmahera Selatan yang berasal dari Alumni KAMMI ada empat orang. Bercerita tentang dirinya yang dilaporkan ke BPDO partai karena ikut Alumni yang dipimpin bang Fahri.
Sebelumnya Ustadz Husein juga mengalami tuduhan yang akhirnya tidak terbukti. Masih merupakan keturunan Sultan Bacan. Mendirikan lembaga tahfidz Qur'an bersama istrinya. Dan bangga karena KAMMI dan Alumni membentuknya. Minta diperjelas posisi Alumni KAMMI, karena di daerah banyak kader yang bertanya.
Sambutan berikutnya dari Indonesia Barat. Dari Erizal yang merupakan penulis tersohor di Padang. Kolumnis tetap Harian Singgalang. Pengkritik PKS yang sangat aktif. Bercerita tentang perjalanan kami bersama bang FH di Medan. Tentang antusiasnya kader-kader KAMMI berjumpa bang FH. Tentang komitmen kader di daerah untuk berjuang bersama bang FH. Tentang penataan organisasi alumni yang masih terus berjalan. Lalu ada Ardy yang bercerita tentang Pasca Pilkada DKI dan kerja rumah Aspirasi. Juga ajakan agar kader alumni KAMMI ikut berkontribusi menguatkan DKI. Dengan gagasan dan program. Dengan ide dan partisipasi.
Ustadz Syamsari Kitta ikut berbicara. Katanya, ia bersyukur menjadi peserta buka puasa bersama. Menghormati bang FH yang telah menorehkan prestasi terbesar. Dan itu yang juga harus kita syukuri. Kita harusnya bangga dengan Fahri Hamzah yang bisa mewakili dan memperjuangkan agenda umat ini. Kedatangannya ke acara Alumni KAMMI ini dalam rangka imgin tertular semangat pergerakan anak-anak muda. Anak muda memiliki semangat pergerakan. Kalau sama orangtua minta nasehat. Datang ke tempat acara ini bebas aja. Tidak perlu ikut-ikut fatwa.
Ustadz Syamasri juga mengajak alumni agar bersinergi mengelola kekuasaan. Berbagai peluang ditawarkan. Ia juga memberikan masukan; kalau KAMMI dan Alumni mau maju, maka harus dibuat sistem Bapak Angkat, agar ada perhatian senior untuk membantu masalah-masalah juniornya. Kita tidak mesti bersama di satu tempat. Tak usah risau kalau ada yang dipecat atau dikeluarkan dari struktur. Yang penting tetap beramal. Komitmen beramal itu harus kita jaga.
Sementara bang Andi Rahmat menyatakan bahwa KAMMI dan Alumni harus memformulasikan gerakannya dengan mengadopsi dan menggunakan kemudahan-kemudahan baru, terutama dalam bidang teknologi dan informasi. Kita menjadi gerakan yang kompatible dengan perkembangan. Alumni dan KAMMI, kata bang Andi, sudah memiliki kemampuan yang mumpuni dan lengkap. Itu kita manfaatkan untuk membesarkan gelombang. Yang ketiga, bang Andi menyampaikan bahwa kita tak perlu lagi ditanya di posisi mana kita. Segera menyebar ke berbagai lini dan wujudkan Islam rahmatan lil alamin. Yang ketiga, kita harus memahami guncangan sejarah yang sedang terjadi. Agar kita bisa berperan dalam perubahan ini.
Keempat, alumni KAMMI tidak seperti alumni organisasi lain pada umumnya yang sudah tua. Alumni KAMMI sangat fresh dan sangat segar. Bisa berpikir dan berbuat dengan kualitas yang lebih baik dari yang lain. Kita masih punya nafas yang panjang. Kelima, jika kita sudah menentukan; dipihak mana kita berpijak, maka keberpihakan kita juga mesti kita ukur; agar sejalan atau sesuai dengan gambaran masa depan diri kita dan komunitas kita. Dan yang terakhir, agar gagasan perbaikan yang kita tawarkan kepada orang bisa diterima, maka kita harus bisa berpikir terbuka, berjiwa terbuka dan bergaul terbuka.
Mas Slamet yang membawahi Bidang Hukum dan merupakan salah satu senior Alumni KAMMI menyatakan bahwa SDM kita di bidang, misalnya hukum sudah sangat cukup. Kita bisa bersinergi menyelesaikan berbagai permasalahan. Bisa saling bekerjasama dalam banyak hal. Acara lalu dilanjutkan dengan taujih bang FH babak kedua. Rangkuman taujihnya bisa dibaca dalam tema tersendiri. Sebelumnya, Herlambang yang diberikan kesempatan berbicara juga menyampaikan tentang pentingnya menerjemahkan gagasan Alumni dalam aktivitas yang real.
Setelah urun bincang dan taujih itu, kami lalu menutup acara tersebut dan saling berbincang atau berfoto bersama. Cukup lama kami berbincang. Pekan depan diputuskan kita akan berkumpul lagi. Ifthor Jama'i lagi. Dengan tema berbeda. Mengajak aktivis lintas organisasi.
Setelah setahun, Alumni KAMMI semakin menyadari; bahwa tugas sejarah yang diembannya semakin berat. Kita punya tanggungjawab besar membawa bangsa ini melewati gelombang besar dengan selamat. Menawarkan narasi baru tentang masa depan yang lebih baik. Menyisipkan mimpi-mimpi di benak umat; bahwa kebangkitan itu sudah dekat. Bahwa kemenangan itu ada di depan mata.
(Selesai)
Ditulis dan dirapikan di Lombok, 2 Juni 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar