Senin, 12 Juni 2017

CERITA TENTANG IFTHOR JAMA'I BERSAMA KELUARGA ALUMNI KAMMI (2): Mimpi Itu Harus Tinggi


Ustadz Pitoyo kemudian melanjutkan, dengan menceritakan dirinya. Yang sempat dialienasi dari komunikasi grup di sesama kawan, karena berbeda pendapat. Tapi kata Ustadz Pitoyo, kita jangan sampai melahirkan kebencian dalam diri kita. Jangan memusuhi saudara-saudara sesama aktivis dakwah. Kita harus tetap sahabat sampai hari kiamat. Harus tetap cinta. Tapi kita jaga kemerdekaan kita. Kemerdekaan bersikap kita. Kemerdekaan kita dalam posisi kita pada kebenaran. Kita bertanggunghawab kepada Allah atas pikiran kita dan sikap kita.

Yang ketiga, kuatkan maknawiyah kita dalam perjuangan. Kita percaya dan semakin kuat keyakinan kita akan datangnya kemenangan. Termasuk kemenangan dalam kehidupan kita. Kalau kita terus mendukung kebenaran Allah, maka percayalah, Allah akan kasih rizqi dalah hidup kita. Allah akan lipatgandakan amal kita dengan kebaikan dan kehidupan kita akan dijamin oleh Allah. Jangan pernah berhenti mendukung kebenaran. Berjuang di jalan kebenaran. Sampai mati. Nanti akan mendapatkan fadhilah-fadhilah dalam perjalanan kita yang luar biasa.

Dalam Ramadhan ini, setidaknya, ada beberapa hal yang diinginkan oleh Allah dari diri kita. Pertama, penempaan dan penguatan kehendak. Lailatul Qadr diturunkan di bulan Ramadhan. Bukti bahwa Allah sedang menginginkan sesuatu. Apa yg diinginkan oleh Allah kepada kita adalah selalu tunduk kepada Allah. Cinta kita tidak boleh hilang. Kekuatan doa itu bisa merubah seluruh perjalanan dan peristiwa yang akan datang. Kita harus memiliki "Quwwatul Iradah". Kekuatan iradah. Jangan apa-apa, bilang terserah. Atau hanya ikut-ikutan.

Ustadz Pitoyo menceritakan dirinya dan pengalaman hidupnya yang pada usia 21 tahun menikah dan pada usia 25 tahun berjuang bersama dakwah hingga hari ini. Mungkin sudah hampir empat puluh tahun berdakwah. Sempat berjumpa dengan Buya Hamka dan Muhammad Natsir. Ketika pertamakali mengenal dakwah, mengalami cobaan karena istrinya hampir saja ia ceraikan tersebab karena tak mau memakai jilbab. Tapi akhirnya, setelah mendapatkan nasihat dari Buya Hamka, ia pelan-pelan mendakwahi keluarga. Sekarang, ia bersama istrinya sudah mendapatkan cucu yang banyak dan langgeng sampai sekarang.

Karena lebih lama mengenal dakwah dan tahu sejarah sejak awal ketika semua perjalanan dakwah ini dimulai bersama dengan para pendahulunya, maka ia bilang, ia selalu cuek dan tak bisa basa basi. Selalu mengatakan kebenaran yang ia yakin.

Ustadz Pitoyo juga menceritakan tentang kekuatan iradah para sahabat Rasulullah. Mereka berjuang sejak mereka semua miskin. Tapi kehendak dan cita-cita seperti melampaui situasi saat itu. Seperti terbang ke langit-langit kehiduapan. "Kamu yang akan menaklukan Persi", kata Rasul kepada sahabatnya. "Kamu yang akan menaklukan Romawi", kata Rasul kepada sahabatnya yang lain. Ini motivasi yang harus terus kita bangun.

Salah satu kunci semuanya adalah keikhlasan. Keikhlasan bisa menembus semua penghalang. Kita adalah barisan murid para pejuang dakwah dan kebenaran. Keikhlasan itu menjadi intisari dari seluruh kemauan kita pada masa depan. Kita juga tak boleh berhenti menaruhkan harapan pada kehendak Allah di masa depan. Kalau minta sesuatu sama Allah itu yang tinggi. Kalau Allah mau kasih sesuatu kepada kita, maka sebab-sebabnya dan jalannya diikutkan kepada kita.

Tema Rabhtul 'Aam dalam dakwah ini mengandung pesan, bahwa kita, pertama bisam memberikan sarana kepada orang shalih untuk berkiprah. Jangan tak terlibat dalam agenda ummat. Apalagi menjauhi. Ada agenda unmat seperti demonstrasi dan Aksi Bela Islam, malah menjauhi dan menakuti-nakuti. Malah mewaspadai. Ini adalah kekonyolan. Lalu tiba-tiba mengklaim seolah-olah kemenangan gubernur muslim adalah kerja-kerjanya. Padahal yang memenangkan Anis Sandi itu Allah. Allah yang menciptakan gelombang yang menggerakkan umat Islam. Jangan gede rasa (GR).

Makna Rabhtul 'Aam yang lain adalah, bahwa kita tidak menjadi qadhaya (sumber masalah) di tengah masyarakat dan bangsa. Kita harus menjadi penyelesai masalah (problem solver). Jangan tidak dewasa dalam bersikap. Jangan menampilkan gambaran seolah-olah kerja kita hanya menjadi cemoohan karena dianggap tidak mewakili isi hati umat dan bangsa. Jangan menambah masalah umat. Dan yang terakhir, kita harusnya bisa bekerjasama dengan siapapun juga. Bisa menjadi unsur perekat dalam isu kebangsaan dan keumatan. Tidak sendirian dan tak jelas mau apa.

Dalam Ramadhan ini, kita juga maknai dengan penguatan daya tahan. Kita nantinya akan berbenturan dengan kekuatan yang mau menggoyahkan barisan kebenaran. Mau tak mau. Makanya daya tahan harus dikuatkan. Agar kita tidak jatuh. Inilah momentum itu. Momentum Ramadhan. Dan yang terakhir, Ramadhan harus kita maknai dengan mendahulukan ibadah kepada Allah. Perkuat amaliyah Ramadhan. Kita galakkan kembali i'tikaf di Masjid lingkungan kita. Harus jadi panitia I'tikaf semua. Jangan malas dan tidak ikut i'tikaf. Jangan sekedar i'tikaf. Tidur dan shalat saja. Tapi perkuat dan perdekat hubungan kita kepada Allah.

Gelombang kemenangan umat ini sudah ada di depan mata. Dengan kekuatan umat yang Allah gerakkan, semua uang dan modal dalam pertarungan elektoral itu bisa kita kalahkan. Di Pilkada DKI, modal yang tak pernah dibayangkan kita, bisa dilibas oleh kekuatan umat. Insya Allah, Allah akan menangkan umat Islam. Tanda-tandanya sudah ada. Tinggal kita ambil peran atau tidak. Tertinggal atau ikut. Di dalam struktur atau diluar, jangan dipermasalahkan. Yang penting bekerja dan bergerak terus.

Kita harus yakin, bahwa kita akan merubah dunia. Kalau kita hilang cita-cita peradaban kita, maka kita akan dilibas dan tergilas oleh perubahan yang sedang berlari ini.

Ditulis dan dirapikan dalam perjalanan Jakarta-Praya, 2 Juni 2017

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar